Gelandangan Surga

Ustadz Aris Munandar

Pernahkah Anda mendengar seorang yang mengatakan “mas klo saya jadi gelandangan di surga saja, saya sudah sangat untung” atau ada orang yang mengatakan “klo saya dapat emperan surga, saya sudah sangat-sangat bersyukur” Pernahkah Anda mendengar orang yang mengucapkan dua kalimat tadi atau kalimat semacam itu. Itulah sebuah kalimat yang menunjukkan kelemahan jiwa, menunjukkan kelemahan semangat. Dan dua kalimat tersebut adalah dua kalimat terlarang bukti adalah hal tersebut hal yang terlarang adalah sabda Nabi  شالله على محمد شالله عليه وسلم  dalam sebuah hadist yang diriwayatkan HR.Muslim

Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم mengatakan :

 فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ

“jika kalian meminta surga, jika kalian meminta kepada Allah swt maka mintalah surga firdaus.”

Perhatikan bagaimana Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم memperintahkan kita apapun amal kita, apapun keadaan kita supaya kita berdoa kepada Allah سبحانه و تعالى agar diberi surga firdaus yang merupakan derajat surga yang paling tinggi. Dalam hadits ini Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم mengajarkan kita agar kita memiliki semangat yang tinggi dalam masalah akhirat. Sehendaknya kita punya cita-cita untuk mendapatkan yang terbaik, yang ideal klo urusan akhirat sehingga jangan lempen, jangan lemah semangat dengan mengatakan “Saya cukup jadi gelandangan surga” dengan mengatakan “Klo emperan surga saja, saya sangant bersyukur” Kita harus memiliki semangat yang kuat, tekad yang membara, kita bisa ! jika kita mau, bersungguh-sungguh. Kita bisa mendapatkan surga yang paling tinggi  itulah surga firdaus. Oleh karena itu, jangan lagi katakan bahwasanya “seandainya Saya jadi gelandangan surga, Saya sudah puas”, “Seandainya Saya dapat emper surga, Saya sudah sangat-sangat bersyukur

Untuk full video bisa dilihat di bawah ini :

Setanpun Tak Sanggup

Oleh Ustadz Muhammad Yassir, Lc

Pernah buka internet ? Siapa yang menggerakkan tangan Anda untuk membuka website ? Apakah Anda ? atau Setan ? atau Malaikat ? Pernahkah Anda merasakan ada yang menggerakkan tangan untuk membuka website terlarang, tidak ada. Itu semua keinginan pribadi kita. Semua keinginan untuk membuka, keinginan untuk maju, keinginan untuk bermaksiat, keinginan untuk tidak taat itu dari kita. Klo begitu apa fungsinya Rasulullah ?, apa fungsinya para Ustadz ? Fungsinya adalah mereka hanya mengajak, mereka mengajak mari kita berbuat kebaikan, mari kita ke jalan yang benar akan tetapi yang menempuh jalan kebenaran itu sendiri adalah kita. Karena Rasulullah tidak bisa memaksa Anda, tidak bisa menarik Anda ke jalan yang benar tersebut. Tetapi Anda sendiri, apakah Anda mu atau tidak. Begitu juga setan, tidak pernah setan itu menarik tangan Anda untuk menyentuh wanita yang tidak berhak Anda  sentuh atau membuka website yang terlarang untuk dibuka. Jadi setan hanya membisikkan saja, mengajak, merayu anda “buka dan buka” yang melakukan perbuatannya adalah Anda sendiri. Allah swt berfirman

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. [Q.S Ibrahim:22]

Pada hari kiamat nanti setan akan mengaku berkata “Allah menjanjikan kepada kalian janjinya yaitu kebaikan. dan aku pun menjanjikan kepada kalian kebaikan akan tetapi aku mengingkari janjiku sendiri”.

Setan dulu menjanjikan kebaikan. “Kalau kamu berbuat seperti ini akan baik, kalau kamu berbuat seperti ini akan berhasil, berbuat seperti ini akan terkenal, berbuat seperti ini akan tersohor.” Kebaikan, tapi setan kemudian mengaku pada hari kiamat nanti namun sekarang menginkari janjiku lalu setan mengatakan “jangan kalian menghinaku, hinalah diri kalian sendiri” kenapa ? karena “sebenarnya aku tidak mampu menyesatkan kalian, yang ku mampu hanyalah , mengajak kalian membisikkan kepada kalian. Kalian sendiri yang mengikuti ajakan saya. Maka jangan menghinaku hinalah diri kalian sendiri. karena sekarang aku tidak bisa menolong kalian dan kalian juga tidak bisa menolongku.”

Jadi semuanya berasal dari diri kita sendiri, kita mau atau tidak sedangkan orang yang dari luar cuman bisa membantu. Kita tidak pintar, bisa diajari. Kita tidak mampu finansial, bisa disumbangi. Kita tidak punya kekuatan, bisa dibantu. Tapi klo kita sudah tidak mau, maka orang lain tidak bisa bilang apa-apa. Jadi semua keberhasilan kita baik di dunia, maupun di akhirat atas kemauan kita sendiri.

Adapun orang lain cuma bisa mengajak kita. Oleh karena itu, janganlah kita menyalahkan orang lain pada hari kiamat nanti. Allah سبحانه و تعالى dalam hadits qudsi mengatakan “jika pada hari kiamat nanti yang kalian dapatkan adalah ganjaran kebaikan, maka pujilah Allah. Adapun jika kalian mendapatkan ganjaran kejelakan maka janganlah kalian menghina kecuali diri kalian sendiri” Salah diri kita sendiri, mari kita memperbaiki diri sendiri.

Dosa di Mata Mukmin & Munafik

Oleh Ustadz Aris Munandar

Saudaraku seorang muslim, pernahkah anda menghadapi keadaan dimana ada seekor lalat yang hinggap di badan anda, hinggap di wajah anda, atau hinggap di hidung anda. kira-kira hal apa yang anda lakukan bila hal tersebut terjadi ? maka tentu jawabannya itu adalah suatu masalah yang sepele. Kita cukup menggerakkan tangan maka lalat tersebut akan hilang demikianlah gambaran yang nabi sampaikan dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari

“dari sahabat abdullah bin mas’ud راضي الله عنه beliau menceritakan bahwasanya orang munafik atau orang fajir, orang yang berbuat maksiat maka dia akan menilai maksiat yang dia kerjakan”

Maksiat yang dia lakukan adalah bagaikan seekor lalat yang hinggap di hidungnya kemudian dia usir cukup dengan dia gerakkan tangannya. Demikianlah sikap seorang munafik, demikianlah sikap seorang fajir. seseorang yang gemar berbuat maksiat, menilai maksiat yang dia kerjakan.
Namun wahai saudaraku lain halnya dengan seorang mukmin, seorang beriman karena nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم ketika dia terjerumus sebuah kemaksiatan maka dia merasa seakan-akan duduk dibawah sebuah gunung batu yang besar dan gunung tersebut telah condong dan ingin menimpakan berbagai bebatuan yang ada pada dirinya maka dia demikian ngeri, dia merasa ketakukan. Maka ketika dia lihat gunung tersebut akan jatuh maka dia akan berupaya untuk lari sekencang-kencangnya agar selamat dari reruntuhan dari batu-batu tersebut.

Demikian perasaan seorang mukmin ketika dia melakukan maksiat, maka dia akan segera lari meninggalkan maksiat tersebut setelah dia baru saja terjerumus di dalamnya. Dia lari sekencang-kencangnya, sekuat-kuatnya karena dia ingin terbebas darinya. Dia lari menuju Allah swt.

Oleh karena itu, mari kita lihat bersama bagaimanakah diri kita, adakah pada diri kita sifat seorang mukmin ataukah ada pada diri kita sifat seorang munafik. Seorang mukmin yang sedemikian takut dengan maksiat yang dia lakukan ataukan seorang munafik yang demikian ringan dan menganggap sepele perbuatan dosa yang dia kerjakan maka mudah-mudahan Allah selalu memberikan hidayahnya kepada kita dan memberikan kepada kita sifat seorang mukmin yang sejati

Untuk full video bisa lihat di bawah ini :

Menjadi Penebar Kebaikan

Ustadz Abdullah Taslim

Di antara amal yang keutamaannya sangat besar dalam islam yang ini tugasnya para Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلمdan tugas orang-orang yang mewarisi jalan atau mengikuti jalan mereka adalah berdakwah dijalan Allah سبحانه و تعالى menjadi sebab tersebarnya ilmu sunah kepada manusia yang ini sungguh merupakan keutamaan yang besar sampai-sampai disebutkan oleh imam al-sunah dari kalangan tabi’in abdullah ibnul mubarak al marwazi راضي الله عنه dalam ucapan beliau.

“aku tidak mengetahui setelah derajat kenabian yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu sunah kepada manusia”

yang bisa melakukan tentu bukan cuma orang yang bisa dikatakan sebagai ustadz saja. Siapapun kita bisa ikut dalam kebaikan tersebut. Kenapa dalam urusan-urusan dunia kita berlomba-lomba meraih keutamaan untuk urusan agama kita mengalah untuk sebagian orang saja siapa yang tidak ingin menjadi pewarisnya para nabi, siapa yang tidak ingin menjadi orang-orang yang ikut  serta dalam menyebarkan sunah Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم yaitu dengan cara belajar agama kemudian berusaha semaksimal mungkin dengan sarana yang kita miliki untuk menyebarkan kebaikan ini kepada manusia demi Allah tidak ada yang lebih utama dari amal kebaikan tersebut bagi orang-orang yang mengharapkan karunia dan pahala dari Allah سبحانه و تعالى cuman tentu kita perlu mengikhlaskan diri. imam Syafi’i رحمة الله ketika beliau diterangkan tentang  kitab-kitabnya, buku-buku yang ditulisnya demiikian tersebar maka beliau mengatakan

“aku sangat mengharapkan manusia mengenal kebenaran dalam kitab-kitabku tersebut, meskipun tidak di nisbatkan kepadaku satu hurufpun darinya”

inilah puncak dari keikhlasan, inilah keutamaan yang besar menjadi sebab tersebarnya kebeneran disertai dengan tidak mengharapkan balasan, pujian dan sanjungan manusia. Semoga Allah سبحانه و تعالى memudahkan tauifknya kepada kita dalam setiap kebaikan

Untuk full video bisa dilihat di bawah ini :

Berlaku Adil Pada Diri Sendiri

Oleh Ustadz Aris Munandar

Diantara prinsip pokok ajaran islam adalah islam memerintahkan untuk menegakkan keadilan. Allah swt hanya memerintahkan keadilan maka segala sesuatu yang bertolak belakang dengan keadilan satu hal yang tidak mungkin Allah perintahkan dan diantara bentuk keadilan adalah keadilan terhadap diri sendiri maka kita tidak boleh dzalim meskipun kepada badan kita sendiri, kita wajib adil meskipun dengan badan-badan kita sendiri. Oleh karena itu ada beberapa contoh yang menunjukkan hal ini.

Yang pertama di antara ajaran Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم adalah kita diperintahkan untuk jika memakai alas kaki maka tidak boleh satu kaki, kaki kanan misalnya diberi alas kaki disebelah kiri tidak. Yang Nabi ajarkan dua-duanya diberi alas kaki atau dua-duanya tanpa alas kaki. Maka kita dilarang untuk berjalan dengan satu alas kaki, berjalan dengan salah satu kaki diberi alas kaki sedangkan yang lain tidak diberi alas kaki. Kenapa demikian ? diantara hikmahnya adalah sikap adil terhadap kaki, sikap adil kepada badan. Jangan sampai satu kaki itu kena aspal yang panas sedangkan satu kaki yang lain aman dari panas. Satu kaki itu aman dari kotoran, aman dari najis sedangkan yang lain tidak. Maka dalam rangka mewujudkan keadilan terhadap badan maka kita dilarang menggunakan satu alas kaki saja. Pilihannya adalah dua kaki tersebut diberi, dua-duanya diberi alas kaki atau dua-duanya tanpa alas kaki.

Demikian juga kaum muslimin yang berbahagia diantara aturan islam melarang kita atau Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم melarang kita satu model cukuran rambut yang disebut dengan coza. Satu bagian dari kepala itu bersih tanpa rambut sedikitpun. Sedangkan, bagian yang lain lebat. Yang satu diplontos tanpa menyisakan satu helai rambut pun yang lain lebat. Maka model rambut semacam ini dilarang oleh Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم. Diantara hikmahnya karena model rambut semacam ini dzalim kepada badan. Tidak adil kepada badan sebagian kepala terlindung dari sinar matahari karena sebagian kulit kepala terlindng dari sinar matahari karena ada rambut yang lebat. Menutupi rambut kepala namun sebagian yang lain tidak terlindung sinar matahari maka disini didapatkan ketidakadilan terhadap kulit kepala kita sendiri. Itulah hikmah kenapa Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم melarangnya.

Demikian pula diantara ajaran Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم ketika kita duduk di satu tempat kita dilarang duduk di tempat yang sebagian badan kita terkena sinar matahari sedangkan bagian badan yang lain terlindungi dari sinar matahari. Nabi memberikan pilihan kepada kita, seluruh badan kita terlindungi matahari atau seluruh badan terkena sengatan sinar matahari. Adapun sebagian badan terlindung sinar matahari sedangkan sebagian yang lain terkena sengatan sinar matahari maka duduk ditempat semacam ini satu hal yang Nabi larang diantara hikmahnya adalah karena disini dapat unsur ketidakadilan kepada badan sendiri. Ada badan yang terlindung dari terik sinar matahari dan ada yang tidak. Maka ini bentuk tidak adil kepada badan maka ini diantara bukti nyata betapa islam menjunjung tinggi asas keadilan dan termasuk yang diperintahkan adalah keadilan dan sikap adil kepada badan kita sendiri

Untuk full video bisa dilihat di bawah ini :

Pentingnya Doa Orang Tua Untuk Anak

Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum wr. wb.

Kaum muslimim yang dirahmati oleh Allah swt, Alhamdulillahirabbilalamin. Kita semua bergembira disini menjadi orang tua, dikatakan orang tua karena kita ini sudah punya anak dan punya istri. Kita perlu memiliki hal-hal yang perlu kita kerjakan setiap hari, ringan tapi tidak membawa modal yang banyak, tetapi itu perlu sekali. Apa itu ? Di antaranya doa kadang-kadang kaum muslimin ini merasa pusing melihat anak-anaknya yang dendeng dibilangin, kemudian ibunya main cubit, main keplak dan seterusnya. Itu sebenarnya tidak perlu cubit dan keplak tetapi kita memohon kepada dzat yang memegang hatinya anak tersebut. Coba kita lihat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan kita dapati dari kitab ash-sahih ul jami nomor 3032,

. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang yang dizalimi, doanya musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. At Tirmidzi No. 1905, 3448, katanya: hasan. Abu Daud No. 1536, Ibnu Majah No. 3862, dan ini menurut lafaz At Tirmidzi. Syaikh Al Albani menghasankan dalam berbagai kitabnya, seperti Shahihul Jami’ No. 3030, 3031, 3032, 3033. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1905. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1536, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3862, Shahih At Targhib wat Tarhib No. 1655, 2226, 3132. As Silsilah Ash Shahihah No. 596)

Yang pertamakan kita tau doa orang tua kepada anaknya, maka ketika orang tua diperlihatkan oleh Allah ta’ala tentang anaknya yang kurang ajar, agak dendeng maka orang tua tidak perlu bersusah payah, tidak perlu berpusing-pusing dia memohon kepada Allah swt dan jangan sekali-kali berdoa yang buruk kepada anaknya “Awas mampus lu” jangan, jangan seperti itu. Jadi kita memang ternyata subhanallah dalam islam ini ada solusi yang tepat, harganya murah dan mudah, ringan tetapi mustazab.

Inilah hebatnya doa, oleh karena itu kaum muslimin dan muslimat tidak menutup kemungkinan jika kita sedang diuji oleh Allah swt akan kenakalan anak-anak kemudian kita berdoa kepada Allah swt, Allah kabulkan doa tersebut sehingga berdoa lah kepada Allah ta’ala dengan doa yang baik. Mudahan Allah subhanallah ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan memberikan kita kekuatan untuk bersabar dalam mendidik anak-anak kita. Amin ya rabbal aalamin. Wasalamualaikum wr. wb

Untuk full video bisa dilihat di :

Kunci Syarat Masuk Surga

Oleh Ustad Aris munandar

Pernahkah anda sejenak memperhatikan kunci-kunci yang kita miliki. Adakah pernah anda jumpai kunci yang tidak memiliki gigi, tentu itu suatu hal yang tidak akan pernah kalian jumpai, sebuah kunci yang tidak memiliki gigi. Seandainya kunci tersebut hanya sebuah besi yang polos begitu saja tentu dia tidak akan bermanfaat sebagai kunci maka demikianlah sifat semua kunci dia itu harus memiliki gigi tidak boleh tidak ada gigi pada setiap kunci. Maka demikian juga kunci surga, dan kunci surga adalah kalimat syahadat Pernahkah anda sejenak memperhatikan kunci-kunci yang kita miliki. Adakah pernah anda jumpai kunci yang tidak memiliki gigi, tentu itu suatu hal yang gk akan pernah kalian jumpai, sebuah kunci yang tidak memiliki gigi. Seandainya kunci tersebut hanya sebuah besi yang polos begitu saja tentu dia tidak akan beramanfaat sebagai kunci maka demikianlah sifat semua kunci dia itu harus memiliki gigi tidak boleh tidak harus ada gigi pada setiap kunci. Maka demikian juga kunci surga, dan kunci surga adalah kalimat syahadat “laa ilaha illallah”.
Kunci tersebut kalimat “laa ilaha ilallah” adalah kunci surga yang bermanfaat untuk membuka pintu surga manakala anda datang menghadap Allah swt di hari kiamat dengan membawa kunci yang punya gigi. seandainya anda datang pada hari kiamat, mendatangi pintu surga dan anda membawa kunci yang tidak memiliki gigi tentu anda tidak akan bisa membuka pintu surga. Tapi, jika anda datang pada hari kiamat kedepan pintu surga dengan membawa kunci yang memiliki gigi maka anda akan bisa memasukinya.
Suatu hari suatu ketika ada seseorang berkata kepada salah seorang ulama ta’biin yang bernama wahab bin nubainah. Orang tersebut mengatakan

“bukanlah laa ilaha illallah adalah pintu surga?”

maka dengan cerdas wahab bin nubainah mengatakan

“betul, laa ilaha illallah adalah pintu surga. Namun tidak ada satupun kunci kecuali dia memiliki gigi” jika anda datang mendatangi sebuah pintu dan anda membawa kunci namun kunci tersebut cuma adalah kunci yang tidak memiliki gigi maka pintu tersebut tidak akan pernah dibukakan untuk anda. Jika anda datang dengan membawa kunci yang memiliki gigi, maka anda akan bisa memasuki pintu tersebut.
Demikian perkataan indah yang disampaikan seorang ulama di masa tabiin wahab bin nubaih. Dia ingatkan kepada kita sekalian, bahwasanya “laa ilaha ilallah” memang betul dia adalah kunci surga, Namun tidak ada satupun kunci kecuali harus bergigi klo kunci tersebut tidak bergigi maka dia tidak akan memiliki guna dan faedah. Dan apakah itu gigi untuk kunci surga “laa ilaha illallah” gigi-gigi yang ada pada kunci surga “laa ilaha illallah” itulah beramal dengan isi kandungan “laa ilaha illallah”.
Artinya “laa ilaha illallah” tidak hanya sekedar diucapkan, “laa ilaha ilallah” tidak hanya dilisankan, “laa ilaha ilallah” menuntut amal yang harus dikerjakan oleh orang yang mengucapkannya dan amalnya adalah meninggalkan segala bentuk ibadah selain kepada Allah swt dan bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allah swt.
Maka setiap kita wahai saudaraku seorang muslim memiliki kunci “laa ilaha ilallah” namun sekarang setiap kita mengucapkan “laa ilaha ilallah” maka kita memiliki kunci surga itu kunci “laa ilaha ilallah” tinggal pilihan ada di tangan kita atau apakah kita jadikan kunci tersebut kunci yang polos tanpa gigi sehingga sia-sia dan tidak ada gunanya ataukah kunci tersebut yang memiliki gigi-gigi sehingga kunci tersebut menjadi kunci yang bermanfaat dan dengannya kita akan masuk surga Allah yang penuh dengan kenikmatan.

Untuk full video bisa di lihat di :

Hakekat Takwa

Oleh Ustadz Aris Munandar

Saudaraku pernahkah anda melewati satu jalan yang disana terdapat banyak pohon berduri, sebagaimana yang kita lihat di samping kita. Apa yang kira-kira kita lakukan ketika kita melewati sebuah jalan kiri dan kanan ada pohon-pohon berduri atau semak-semak yang berduri maka tentu kita akan menyinsingkan pakaian kita dan kita akan berjalan dengan hati-hati maka demikianlah gambaran orang yang bertakwa. Dia adalah orang yang berhati-hati terhadap berbagai hal yang dilarang oleh Allah swt karena larangan-larangan Allah swt itu adalah bagaikan duri yang ada dalam jalan hidup kita ini jika kita tidak hati-hati maka kita akan terkena duri dan duri itu sakit. Tidak ada orang yang bahagia terkena duri.
Oleh karena itu, pernah suatu hari sahabat Umar bin Khatab راضي الله عنه  bertanya kepada Zubair bin Taat راضي الله عنه . pertanyaannya singkat, apa itu taqwa ? maka mendapatkan pertanyaan semacan ini sahabat Zubair bin Taat راضي الله عنه balik bertanya kepada Amirul Mukminin Umar bin Khatab راضي الله عنه

“apa yang anda lakukan jika berjalan disatu jalan yang penuh dengan duri?”

maka Umar راضي الله عنه pun menjawab

“aku akan mengangkat pakaianku supaya tidak terkena duri dan aku akan berjalan dengan penuh kesungguhan dan hati-hati”

maka komentar dan sahabat Zubair bin Taat راضي الله عنه

“itulah taqwa”

maka demikianlah sikap orang yang bertaqwa menilai bahwa dosa adalah duri yang akan menyakiti hidupnya yang akan menyakiti masa depannya dan merusaknya oleh karena itu maka mereka ketika melihat keburukan, kemaksiatan dan larangan Allah maka mereka akan hati-hati dan berupaya menjauhinya sejauh-jauhnya. muka kita adalah termasuk diantara mereka

Untuk full video bisa dilihat di