Kesempatan Untuk Bermaksiat – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah.. kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian mengenai dosa yang sering kali orang-orang lalai ketika melakukannya, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Aamiin..

Pernahkah kalian untuk berfikir sejenak ketika berada disuatu tempat dimana kalian terasa sebegitu bebasnya untuk melakukan maksiat?

Apakah kalian pernah sekilat terpikir mempunyai kesempatan untuk bermaksiat?

Kisah riwayat dari Ibnul Jauzi:
Pemuda yang Membakar Tangannya Ada sebuah kisah lelaki shalih yang diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi. Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa ada seorang pria yang terbiasa berpuasa pada siang hari, dan shalat malam sepanjang malam. Dia tidak pernah melakukan apapun yang haram. Dia tahu bahwa orang-orang di sekelilingnya, di lingkungannya adalah orang-orang yang rusak. Dia tidak duduk dalam perkumpulan mereka karena apa yang mereka lakukan adalah bergosip dan mencela. Dia menjauh dari perkumpulan apapun dan hanya tinggal di rumahnya, dan tidak pernah meninggalkan rumahnya. Ketika kehabisan makanan, dia akan meninggalkan rumahnya, dan membeli cukup makanan untuk persediaan selama jangka waktu tertentu. Setelah selesai, dia tinggal di rumahnya hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang-orang di lingkungannya, mereka berkumpul bersama dan berkata, “Lihatlah pria ini. Apakah dia berpikir bahwa dia lebih baik daripada kita? Dia tidak datang dan duduk bersama perkumpulan kita. Dia tidak berjalan atau berbicara kepada kita. Kita melihatnya, dan dia hanya menundukkan pandangannya, dan dia pergi ke toko dan kembali pulang ke rumahnya.” Pria ini tidak pernah melihat ke kiri atau ke kanan atau bahkan melihat ke depan. Dia hanya menunduk dan berjalan. Jadi mereka iri kepada pria ini, dan inilah bagaimana syetan tidak hanya menyerang kita seorang diri, melainkan syetan mempunyai orang-orang yang telah disesatkannya, dan syetan menyuruh mereka untuk menyerang orang-orang beriman. Inilah yang mereka lakukan. Yang mereka lakukan adalah mencari di seluruh negeri, sampai mereka menemukan wanita paling cantik di negeri itu. Dia adalah gadis muda. Dia adalah gadis perawan. Mereka mendekati gadis itu, dan berkata, “Kami ingin kau menggoda pria itu, dan berzina dengannya.” “Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu.” Jawab gadis itu. Gadis itu berasal dari salah satu keluarga termiskin di negeri itu, dia kesulitan dalam menyambung hidupnya. Mereka kemudian berkata, “Jika kamu dapat melakukan ini, maka kami akan memberikanmu emas yang setara dengan berat tubuhmu, dan bahkan bisa mendapatkan lebih. Semua kemiskinan yang kau alami sekarang, semuanya akan berakhir. Sekarang yang harus kau lakukan adalah berzina dengan pria itu.” Gadis itu pun pulang ke rumah. Dia mulai memikirkannya sampai dia melihat kondisinya dan berfikir. Subhanallah, apa yang difikirkannya…. “Tidak ada yang tersisa bagiku. Aku akan mati dalam kemiskinan.” Akhirnya dia menerima tugas yang mereka tawarkan kepadanya. Dan dia berkata, “Aku akan pergi dan berzia dengan pria itu.” Pada suatu malam yang dingin, gadis itu pergi dan mengetuk pintu rumah pria ini. Dia mengetuk pintunya. Pria itu pun membuka pintu rumahnya, dan melihat seorang gadis. Lalu dia menutup pintunya. Gadis itu mengatakan, “Tolong biarkan aku masuk ke dalam rumahmu. Aku sedang bepergian, dan berpikir aku akan sampai ke tempat tujuanku sebelum waktu malam. Tetapi sekarang malam telah datang dan aku berada di tempat antah berantah, aku tidak tahu di mana tempat ini, aku tidak mengenal satu pun orang di sini, dan jika kau tidak menerimaku di rumahmu, maka aku takut sesuatu yang akan menimpaku di luar.” Pria itu menjawab, “Kami mempunyai banyak tetangga di sekitar. Silahkan pergi dan ketuklah pintu salah seorang tetangga di sini. Insya Allah mereka akan membantumu.” Gadis itu pergi. Tetapi beberapa saat kemudian, gadis itu mengetuk pintu pria itu lagi. Gadis itu berkata, “Aku telah mengunjungi rumah-rumah tetanggamu, tapi tak seorang pun di rumah. Di luar sangat dingin. Aku takut bahwa aku akan mati jika kau tidak menerima dan mempersilahkanku masuk ke dalam rumahmu.” Pria itu menjawab, “Berjalanlah sedikit saja menuruni bukit,d an kau akan menemukan lebih banyak rumah di sana. Insya Allah mereka akan mengizinkanmu untuk tinggal bersama mereka.” Pria itu berkata lagi, “Tidak ada seorang pun di rumahku. Jadi, kamu tidak boleh masuk ke rumahku.” Gadis itu pergi. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali dan mengetuk pintu si pria. Ia membuka pintu dan melihat gadis itu. Gadis itu berkata, “Wallahi, jika kau tidak memperbolehkanku masuk ke dalam rumahmu, lalu ada seorang pria yang menyentuhku, memperkosaku dan merenggut kesucianku, maka demi Allah, pada kiamat kelak aku akan berdiri di hadapan Allah dan berkata bahwa kau-lah penyebabnya. Kamulah yang menjadi sebab aku diperkosa. Karenamu pula hal itu terjadi, dan aku akan menyalahkanmu.” Ketika pria itu mendengar nama Allah, dia menjadi sangat takut. Kenapa? Karena hati orang-orang beriman akan bergetar ketika mendengar nama Allah disebut. Pria ini menjadi sangat takut. Dia berkata, dan dia memiliki dua ruangan di rumahnya, “Masuk, dan duduklah di ruangan ini. Jangan kau ketuk pintuku, atau mengatakan sesuatu pun kepadaku. Ketika waktu Shubuh tiba, tinggalkanlah rumahku dan lanjutkanlah perjalananmu.” Pria itu kemudian meninggalkan gadis tersebut di ruangannya, dan dia berjalan ke ruangan kedua dan mengunci pintunya, dia kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’annya. Orang-orang di lingkungan itu. Mereka tahu bahwa gadis itu telah masuk ke rumahnya. Mereka kemudian berkumpul di sekitar rumahnya, menanti memergoki mereka berdua melakukan zina. Sedangkan pria itu orang yang sangat shaleh. Dia tidak pernah menghadapi hal seperti ini dalam hidupnya. Pria itu masih di dalam ruangannya dan membaca kitab Allah. Sementara gadis tersebut siap untuk berzina dengan pria ini. Orang-orang di lingkungan itu sudah berkumpul di sekeliling rumahnya, menunggu untuk memasuki rumahnya untuk memergoki mereka berzina. Pria itu masih tetap membaca Al-Qur’an, sementara gadis itu mulai berteriak. Gadis itu berteriak, berteriak dan berteriak. Pria itu kemudian membuka pintu ruangannya, dan berjalan menuju ruangan di mana gadis itu berada. Dia membawa lampu minyak di tangannya. Dia pergi ke ruangan di mana gadis itu berada. Ternyata gadis itu sedang terbaring di lantai tanpa berpakaian, dan gadis itu menggoda si pria…, Pria ini sekarang untuk pertama kali dalam hidupnya, dia melihat sesuatu yang tak pernah dilihat sebelumnya. Karena pandangannya selalu ditundukkan. Dia merasakan sesuatu dalam hatinya yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Pikirannya memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Ada seorang gadis tercantik di negeri itu di hadapannya, menggodanya untuk berzina. Apa yang dilakukan pria itu? Apakah yang akan dilakukan seseorang dalam situasi seperti ini? Dia tidak pernah melihat hal seperti ini dalam hidupnya. Orang-orang sekarang tahu…., mereka mendengar teriakan pertama dari si gadis, sehingga mereka akan tahu bahwa sebentar lagi mereka akan memergoki keduanya berzina. Mereka pun bergerak mendekati pintu rumah pria ini. Gadis itu sekarang, tiba-tiba mulai berteriak dan berteriak lagi, dan terus berteriak. Orang-orang kemudian mendobrak pintunya. Mereka masuk dan melihat bahwa gadis itu terbaring di lantai dan pria itu juga tergeletak di lantai… Tapi gadis itu berada di sudut ruangan, dan si pria berada di sudut lainnya. Gadis itu terus berteriak dan berteriak. Mereka melihat pria yang ada di sudut ruangan itu. Tangannya berada di dalam kobaran lampu minyak yang dibawanya. Dia menangis dan menangis. Sementara gadis itu berteriak. Mereka pun membawa gadis itu keluar dari rumahnya. Gadis itu berkata, “Jauhkan aku dari pria itu, karena demi Allah keimanannya membunuhku. Aku melihat sesuatu di hadapanku yang tak dapat kujelaskan. Dan hal ini berpengaruh pada hati dan pikiranku. Iman pria itu membunuhku. Jadi, tolong jauhkan aku darinya.” Pria itu menangis di sudut ruangan, karena setiap kali ia mengambil satu langkah untuk mendekati gadis itu, dia meletakkan tangannya di atas lampu minyak yang dibawanya dan berkata, “Ingatlah bahwa api Jahannam lebih panas daripada api dunia ini.” Sampai akhirnya dia terjatuh ke lantai… Kemudian ketika dia mampu berdiri lagi, dia pun berdiri dan mengambil satu langkah menuju gadis itu. Ketika dia mengambil satu langkah menuju gadis itu, dia kembali memasukkan tangannya ke dalam api dan berkata, “Ingatlah bahwa api neraka jauh lebih panas dairpada api dunia ini.” Dia terus melakukan hal ini sampai tangannya tetap berada di dalam apinya. Gadis itu pergi, setelah dibawa oleh orang-orang. Kemudian pria itu memohon ampun kepada Allah. Dia berkata, “Ya Allah, ampuni aku atas dosa yang telah kulakukan.” Dosa apa yang dilakukan pria ini? Apa yang dia lakukan? Dia menjauh dari zina. Dia menjauh dari gadis tercantik di negeri itu. Dosa apa yang dilakukannya? Dia berkata, “Ya Allah, ampuni aku atas langkah kakiku yang berjalan menuju gadis itu.” Lihatlah keimanan pria ini, lihatlah keimanan orang-orang shaleh. Tidak ada yang dapat menggoda mereka. Tidak ada yang dapat menjauhkan mereka dari Allah. ditulis ulang oleh Ibnu Abdil Bari.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Sedangkan pemuda tersebut memiliki kesempatan untuk melakukan maksiat. Yang membuatnya bertahan yaitu imannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka dari itu kesempatan untuk tidak dapat melakukan maksiat adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar. Seseorang yang tidak diberikan waktu dan kesempatan untuk bermaksiat adalah sebuah nikmat yang terbesar dari nikmat-nikmat terbesar besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita semua.

Tidak semua orang diberikan kesempatan untuk jauh dari maksiat. Ada sebagian orang dimana ia benar benar di uji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemaksiatan

Maka bersyukurlah jika kita tidak diberikan kesempatan untuk bermaksiat.

Jika kita tidak pernah terpikirkan untuk menginggalkan ibadah. Jika kita tidak pernah terpikirkan untuk mencuri, berzina, minum khamer. Dimana pada saat itu kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Maka bersyukurlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah memberikan sepintas pun pemikiran kepada kita untuk melakukannya.

Hal ini merupakan tadabbur atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Lihat juga video-nya Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kesempatan Untuk Bermaksiat – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah.. kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian mengenai dosa yang sering kali orang-orang lalai ketika melakukannya, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Aamiin..

Pernahkah kalian untuk berfikir sejenak ketika berada disuatu tempat dimana kalian terasa sebegitu bebasnya untuk melakukan maksiat?

Apakah kalian pernah sekilat terpikir mempunyai kesempatan untuk bermaksiat?

Kisah riwayat dari Ibnul Jauzi:
Pemuda yang Membakar Tangannya Ada sebuah kisah lelaki shalih yang diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi. Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa ada seorang pria yang terbiasa berpuasa pada siang hari, dan shalat malam sepanjang malam. Dia tidak pernah melakukan apapun yang haram. Dia tahu bahwa orang-orang di sekelilingnya, di lingkungannya adalah orang-orang yang rusak. Dia tidak duduk dalam perkumpulan mereka karena apa yang mereka lakukan adalah bergosip dan mencela. Dia menjauh dari perkumpulan apapun dan hanya tinggal di rumahnya, dan tidak pernah meninggalkan rumahnya. Ketika kehabisan makanan, dia akan meninggalkan rumahnya, dan membeli cukup makanan untuk persediaan selama jangka waktu tertentu. Setelah selesai, dia tinggal di rumahnya hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Orang-orang di lingkungannya, mereka berkumpul bersama dan berkata, “Lihatlah pria ini. Apakah dia berpikir bahwa dia lebih baik daripada kita? Dia tidak datang dan duduk bersama perkumpulan kita. Dia tidak berjalan atau berbicara kepada kita. Kita melihatnya, dan dia hanya menundukkan pandangannya, dan dia pergi ke toko dan kembali pulang ke rumahnya.” Pria ini tidak pernah melihat ke kiri atau ke kanan atau bahkan melihat ke depan. Dia hanya menunduk dan berjalan. Jadi mereka iri kepada pria ini, dan inilah bagaimana syetan tidak hanya menyerang kita seorang diri, melainkan syetan mempunyai orang-orang yang telah disesatkannya, dan syetan menyuruh mereka untuk menyerang orang-orang beriman. Inilah yang mereka lakukan. Yang mereka lakukan adalah mencari di seluruh negeri, sampai mereka menemukan wanita paling cantik di negeri itu. Dia adalah gadis muda. Dia adalah gadis perawan. Mereka mendekati gadis itu, dan berkata, “Kami ingin kau menggoda pria itu, dan berzina dengannya.” “Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu.” Jawab gadis itu. Gadis itu berasal dari salah satu keluarga termiskin di negeri itu, dia kesulitan dalam menyambung hidupnya. Mereka kemudian berkata, “Jika kamu dapat melakukan ini, maka kami akan memberikanmu emas yang setara dengan berat tubuhmu, dan bahkan bisa mendapatkan lebih. Semua kemiskinan yang kau alami sekarang, semuanya akan berakhir. Sekarang yang harus kau lakukan adalah berzina dengan pria itu.” Gadis itu pun pulang ke rumah. Dia mulai memikirkannya sampai dia melihat kondisinya dan berfikir. Subhanallah, apa yang difikirkannya…. “Tidak ada yang tersisa bagiku. Aku akan mati dalam kemiskinan.” Akhirnya dia menerima tugas yang mereka tawarkan kepadanya. Dan dia berkata, “Aku akan pergi dan berzia dengan pria itu.” Pada suatu malam yang dingin, gadis itu pergi dan mengetuk pintu rumah pria ini. Dia mengetuk pintunya. Pria itu pun membuka pintu rumahnya, dan melihat seorang gadis. Lalu dia menutup pintunya. Gadis itu mengatakan, “Tolong biarkan aku masuk ke dalam rumahmu. Aku sedang bepergian, dan berpikir aku akan sampai ke tempat tujuanku sebelum waktu malam. Tetapi sekarang malam telah datang dan aku berada di tempat antah berantah, aku tidak tahu di mana tempat ini, aku tidak mengenal satu pun orang di sini, dan jika kau tidak menerimaku di rumahmu, maka aku takut sesuatu yang akan menimpaku di luar.” Pria itu menjawab, “Kami mempunyai banyak tetangga di sekitar. Silahkan pergi dan ketuklah pintu salah seorang tetangga di sini. Insya Allah mereka akan membantumu.” Gadis itu pergi. Tetapi beberapa saat kemudian, gadis itu mengetuk pintu pria itu lagi. Gadis itu berkata, “Aku telah mengunjungi rumah-rumah tetanggamu, tapi tak seorang pun di rumah. Di luar sangat dingin. Aku takut bahwa aku akan mati jika kau tidak menerima dan mempersilahkanku masuk ke dalam rumahmu.” Pria itu menjawab, “Berjalanlah sedikit saja menuruni bukit,d an kau akan menemukan lebih banyak rumah di sana. Insya Allah mereka akan mengizinkanmu untuk tinggal bersama mereka.” Pria itu berkata lagi, “Tidak ada seorang pun di rumahku. Jadi, kamu tidak boleh masuk ke rumahku.” Gadis itu pergi. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali dan mengetuk pintu si pria. Ia membuka pintu dan melihat gadis itu. Gadis itu berkata, “Wallahi, jika kau tidak memperbolehkanku masuk ke dalam rumahmu, lalu ada seorang pria yang menyentuhku, memperkosaku dan merenggut kesucianku, maka demi Allah, pada kiamat kelak aku akan berdiri di hadapan Allah dan berkata bahwa kau-lah penyebabnya. Kamulah yang menjadi sebab aku diperkosa. Karenamu pula hal itu terjadi, dan aku akan menyalahkanmu.” Ketika pria itu mendengar nama Allah, dia menjadi sangat takut. Kenapa? Karena hati orang-orang beriman akan bergetar ketika mendengar nama Allah disebut. Pria ini menjadi sangat takut. Dia berkata, dan dia memiliki dua ruangan di rumahnya, “Masuk, dan duduklah di ruangan ini. Jangan kau ketuk pintuku, atau mengatakan sesuatu pun kepadaku. Ketika waktu Shubuh tiba, tinggalkanlah rumahku dan lanjutkanlah perjalananmu.” Pria itu kemudian meninggalkan gadis tersebut di ruangannya, dan dia berjalan ke ruangan kedua dan mengunci pintunya, dia kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’annya. Orang-orang di lingkungan itu. Mereka tahu bahwa gadis itu telah masuk ke rumahnya. Mereka kemudian berkumpul di sekitar rumahnya, menanti memergoki mereka berdua melakukan zina. Sedangkan pria itu orang yang sangat shaleh. Dia tidak pernah menghadapi hal seperti ini dalam hidupnya. Pria itu masih di dalam ruangannya dan membaca kitab Allah. Sementara gadis tersebut siap untuk berzina dengan pria ini. Orang-orang di lingkungan itu sudah berkumpul di sekeliling rumahnya, menunggu untuk memasuki rumahnya untuk memergoki mereka berzina. Pria itu masih tetap membaca Al-Qur’an, sementara gadis itu mulai berteriak. Gadis itu berteriak, berteriak dan berteriak. Pria itu kemudian membuka pintu ruangannya, dan berjalan menuju ruangan di mana gadis itu berada. Dia membawa lampu minyak di tangannya. Dia pergi ke ruangan di mana gadis itu berada. Ternyata gadis itu sedang terbaring di lantai tanpa berpakaian, dan gadis itu menggoda si pria…, Pria ini sekarang untuk pertama kali dalam hidupnya, dia melihat sesuatu yang tak pernah dilihat sebelumnya. Karena pandangannya selalu ditundukkan. Dia merasakan sesuatu dalam hatinya yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Pikirannya memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Ada seorang gadis tercantik di negeri itu di hadapannya, menggodanya untuk berzina. Apa yang dilakukan pria itu? Apakah yang akan dilakukan seseorang dalam situasi seperti ini? Dia tidak pernah melihat hal seperti ini dalam hidupnya. Orang-orang sekarang tahu…., mereka mendengar teriakan pertama dari si gadis, sehingga mereka akan tahu bahwa sebentar lagi mereka akan memergoki keduanya berzina. Mereka pun bergerak mendekati pintu rumah pria ini. Gadis itu sekarang, tiba-tiba mulai berteriak dan berteriak lagi, dan terus berteriak. Orang-orang kemudian mendobrak pintunya. Mereka masuk dan melihat bahwa gadis itu terbaring di lantai dan pria itu juga tergeletak di lantai… Tapi gadis itu berada di sudut ruangan, dan si pria berada di sudut lainnya. Gadis itu terus berteriak dan berteriak. Mereka melihat pria yang ada di sudut ruangan itu. Tangannya berada di dalam kobaran lampu minyak yang dibawanya. Dia menangis dan menangis. Sementara gadis itu berteriak. Mereka pun membawa gadis itu keluar dari rumahnya. Gadis itu berkata, “Jauhkan aku dari pria itu, karena demi Allah keimanannya membunuhku. Aku melihat sesuatu di hadapanku yang tak dapat kujelaskan. Dan hal ini berpengaruh pada hati dan pikiranku. Iman pria itu membunuhku. Jadi, tolong jauhkan aku darinya.” Pria itu menangis di sudut ruangan, karena setiap kali ia mengambil satu langkah untuk mendekati gadis itu, dia meletakkan tangannya di atas lampu minyak yang dibawanya dan berkata, “Ingatlah bahwa api Jahannam lebih panas daripada api dunia ini.” Sampai akhirnya dia terjatuh ke lantai… Kemudian ketika dia mampu berdiri lagi, dia pun berdiri dan mengambil satu langkah menuju gadis itu. Ketika dia mengambil satu langkah menuju gadis itu, dia kembali memasukkan tangannya ke dalam api dan berkata, “Ingatlah bahwa api neraka jauh lebih panas dairpada api dunia ini.” Dia terus melakukan hal ini sampai tangannya tetap berada di dalam apinya. Gadis itu pergi, setelah dibawa oleh orang-orang. Kemudian pria itu memohon ampun kepada Allah. Dia berkata, “Ya Allah, ampuni aku atas dosa yang telah kulakukan.” Dosa apa yang dilakukan pria ini? Apa yang dia lakukan? Dia menjauh dari zina. Dia menjauh dari gadis tercantik di negeri itu. Dosa apa yang dilakukannya? Dia berkata, “Ya Allah, ampuni aku atas langkah kakiku yang berjalan menuju gadis itu.” Lihatlah keimanan pria ini, lihatlah keimanan orang-orang shaleh. Tidak ada yang dapat menggoda mereka. Tidak ada yang dapat menjauhkan mereka dari Allah. ditulis ulang oleh Ibnu Abdil Bari.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Sedangkan pemuda tersebut memiliki kesempatan untuk melakukan maksiat. Yang membuatnya bertahan yaitu imannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka dari itu kesempatan untuk tidak dapat melakukan maksiat adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar. Seseorang yang tidak diberikan waktu dan kesempatan untuk bermaksiat adalah sebuah nikmat yang terbesar dari nikmat-nikmat terbesar besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita semua.

Tidak semua orang diberikan kesempatan untuk jauh dari maksiat. Ada sebagian orang dimana ia benar benar di uji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemaksiatan

Maka bersyukurlah jika kita tidak diberikan kesempatan untuk bermaksiat.

Jika kita tidak pernah terpikirkan untuk menginggalkan ibadah. Jika kita tidak pernah terpikirkan untuk mencuri, berzina, minum khamer. Dimana pada saat itu kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Maka bersyukurlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah memberikan sepintas pun pemikiran kepada kita untuk melakukannya.

Hal ini merupakan tadabbur atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Lihat juga video-nya Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tips Untuk Bertaubat – Ustadz Abdullah Taslim, MA.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Aamiin..

Ada sebuah kisah dari seorang pemuda. Pemuda ini seorang pemuda yang labil, ia melakukan maksiat dimalam hari, meminum minuman beralkohol, mendatangi club malam, tetapi ketika pagi hari saat terbangun dari tidurnya, ia menyesal telah melakukan hal-hal tersebut, namun pada saat menjelang malam lagi, teman-temannya mengajaknya sekaligus mentraktirnya melakukan maksiat, pemuda ini tergoda lagi untuk melakukan maksiat, kemudian pagi harinya ia tersadar lagi.

Dari kisah diatas, timbul sebuah pertanyaan :

“Bagaimana cara kita menyadarkan pemuda tersebut agar bertaubat yang sebenar-benarnya?”

Memang pada saat di usia muda, masa masa dimana pertumbuhan manusia, dimasa ini godaan syaiton sangatnya berat. Didalam agama islam benar-benar mensyariatkan dan menurunkan hukum-hukum yang mendukung usia setiap manusia, diantara nya pada usia muda perhatian islam sangatlah besar.

Banyak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan khusus tentang para pemuda, misal Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Pada hadits diatas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dari 7 golongan tersebut, salah satunya yaitu golongan pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah dan dapat menahan hawa nafsunya. Jadi pujian kepada pemuda secara khusus karena mereka mempunyai keistimewaan kalau mampu untuk mengatasi hal-hal tersebut.

Jika diusia muda kita berpegang teguh terhadap Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong kita, tetapi banyak sekali godaan-godaan dari luar yang sangat besar bagi para pemuda. Maka dari itu para pemuda dipuji secara khusus oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam.

Seperti halnya dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal pernikahan. diriwayat-kan oleh Al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:


يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).’”

Pada hadits diatas menjelaskan seorang pemuda yang siap untuk menikah, disebutkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam untuk seorang pemuda lagi. MasyaAllah luar biasa.

Maka dari itu seorang pemuda yang menginginkan kebaikan untuk dirinya dan juga orang tua yang melihat para pemuda yang masa kini semakin buruk kelakuannya, hendaknya mengarahkan akan-anaknya untuk belajar agama. Sesungguhnya penjagaan sebaik-baiknya adalah penjagaan agama Islam,  karena dalam Islam banyak mengajarkan mulai dari pendidikan anak sejak kecil sampai remaja, maka ia akan dijaga dengan sempura oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ditulis Oleh Ustadz Abu Utsman Kharisman Syarh Hadits Ke-19 Arbain anNawawiyyah

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ  [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي   الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”

(HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi: “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”)

Pada awal kisah tadi, kita kembali kepertanyaan “Bagaimana cara kita menyadarkan pemuda tersebut agar bertaubat yang sebenar-benarnya?”, salah satu faktor penyebab pemuda tersebut terjerumus kembali kedalam kemaksiatan adalah karena pergaulannya, lingkungannya.

Pada hakekatnya manusia cenderung mengikuti seseorang yang sering bersamanya, hal ini bisa dimanfaatkan oleh kita untuk kebaikan melaikan juga dimanfaatkan oleh syaiton untuk menggoda agar kita tersebut berbuat keburukan.

Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata :

“Kawan pendamping yang sholeh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya.” (HR. Bukhari)

Maka dari itu ketika kita ingin berpergian, ingin berhijrah, hendaknya memilih tempat yang lingkungannya baik.

Maka tipsnya adalah hindari lingkungan yang buruk, dekat kan pemuda ini dengan lingkungan yang baik,  tempat-tempat yang sering melakukan pengajian-pengajian, dimana disitu kita bisa mendapatkan nasihat, ketika pemuda tersebut turun imannya, InsyaAllah akan ada yang merangkulnya serta mengajaknya kedalam kebaikan.


Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ciri-Ciri Hati Yang Selamat – Ustadz Abu Yahya Badru Salam, LC.




السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Aamiin..

Postingan kali ini saya akan menjelaskan sebuah pertanyaan yang simple, pertanyaan yang dapat membuat kalian yang mendengan jawaban ini tersadar dan sesegera memantapkan iman, Aamiin.

Berikut pertanyaannya :

Bagaimana ciri-ciri hati yang selamat dan membuat kita bisa masuk surga?

Mari kita jawab, Dalam Kitab Ighatsatul Lahfan, Imam Ibnu Qayyim menyebutkan tanda ciri hati yang selamat :

1. Lebih memperhatikan lurusnya amal daripada amal itu sendiri, maksudnya sebelum ingin beramal, dia ingin luruskan amalannya.

2. Hati yang selamat dan sehat akan merasakan masuknya penyakit hati, sebagaimana badan yang sehat akan merasakan penyakit yang masuk kedalam dirinya, misal kalo kita lagi sehat, lalu terkena flu sedikit, kita akan merasakan pusing, gaenak badan, kenapa? karena selama ini badan kita sehat. Demikian pula ketika hati yang sehat akan merasakan sakitnya dosa yang masuk dihatinya, sehingga menimbulkan kegelisahan, maka dari itu kalau hati kita sehat, kita masih bisa mendeteksi dosa yang masuk kedalam hati, bisa kita lihat tandanya yaitu gelisah, tidak tenang.

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain,


عن وابصة بن معبد رضي الله عنه قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم , فقال: جئت تسأل عن البر؟ قلت: نعم. قال: استفت قلبك. البر مااطمأن إليه النفس واطمأن إليه القلب. والإثم ماحاك في النفس و تردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك.

Dari Wabishah bin ma’bad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau bersabda(artinya): “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292))

Dalam hadits tersebut, yang bertanya adalah seorang sahabat, dimana seorang sahabat itu hatinya bersih, karena yang hatinya bersih masih merasakan sakitnya dosa. Tetapi, jika ada orang yang biasa berdosa, yakinlah dia tidak akan merasakan sakitnya dosa. Kita ambil contoh jika waktu kecil kita pilek, sampai besar masih pilek, pasti ketika ditanya “apakah kamu sehat?” maka dipastikan dia akan menjawab “sehat pak”, orang ini tidak merasa bahwa dia selama itu sakit, sama pula dengan orang yang terbiasa melakukan dosa, ketika ditanya “apakah hati kamu sehat?” dipastikan dia akan menjawab “sehat kok, saya tidak merasakan kegelisahan”

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Karena hati nya sudah terbalik, yang buruk dianggap sebagai sesuatu yang baik.

Maka dari itu, perhatian kepada hati kita harus lebih. Ada sebuah surat yang dimana Allah subhanallahu ta’ala paling banyak bersumpah, yaitu surat As-Syams dimana terdapat 11 sumpah bisa kalian lihat dibawah

No.
Teks terjemahan
Teks Qur’an dan latinnya
001
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,” – (QS.91:1)
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
Wasy-syamsi wadhuhaahaa
002
“dan bulan, apabila mengiringi-nya,” – (QS.91:2)
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا
Wal qamari idzaa talaahaa
003
“dan siang, apabila menampakkan-nya,” – (QS.91:3)
وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا
Wannahaari idzaa jalaahaa
004
“dan malam, apabila menutupi-nya,” – (QS.91:4)
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا
Wallaili idzaa yaghsyaahaa
005
“dan langit, serta pembinaan-nya,” – (QS.91:5)
وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا
Wassamaa-i wamaa banaahaa
006
“dan bumi, serta penghamparan-nya,” – (QS.91:6)
وَالأرْضِ وَمَا طَحَاهَا
Wal ardhi wamaa thahaahaa
007
“dan (Demi) jiwa, serta penyempurnaannya (ciptaannya),” – (QS.91:7)
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
Wanafsin wamaa sau-waahaa
008
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,” – (QS.91:8)
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa
009
“sesungguhnya beruntunglah, orang yang mensucikan jiwa itu,” – (QS.91:9)
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Qad aflaha man zakkaahaa
010
“dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotori-nya.” – (QS.91:10)
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Waqad khaaba man dassaahaa
011
“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya), karena melampaui batas,” – (QS.91:11)
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا
Kadz-dzabat tsamuudu bithaghwaahaa
012
“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,” – (QS.91:12)
إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا
Idziinba’atsa asyqaahaa
013
“lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: ‘(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya’.” – (QS.91:13)
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا
Faqaala lahum rasuulullahi naaqatallahi wasuqyaahaa
014
“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb-mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah),” – (QS.91:14)
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا
Fakadz-dzabuuhu fa’aqaruuhaa fadamdama ‘alaihim rabbuhum bidzanbihim fasau-waahaa
015
“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” – (QS.91:15)
وَلا يَخَافُ عُقْبَاهَا
Walaa yakhaafu ‘uqbaahaa

Dari ayat 1-8, Allah subhanallahu ta’ala bersumpah hanya untuk menyebutkan tentang pentingnya mensucikan hati di ayat ke 9.

Al Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

“Dahulu para sahabat tidak diberikan oleh Allah keutamaan karena banyaknya amal, tetapi mereka diberikan keutamaan karena beningnya hati mereka”

Maka dari itu orang yang berilmu lebih fokus kepada hati mereka, sedangkan orang yang kurang berilmu lebih fokus kepada amalan badan. Karena bisa kita lihat di lingkungan kita, ada orang yang amalan badannya luar biasa tetapi hatinya banyak penyakitnya, akhirnya amalan solehnya malah menimbukan ujub (bangga atas amalannya karena merasa amalannya tidak dimiliki oleh orang lain)

Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tips Untuk Bertaubat – Ustadz Abdullah Taslim, MA.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Aamiin..

Ada sebuah kisah dari seorang pemuda. Pemuda ini seorang pemuda yang labil, ia melakukan maksiat dimalam hari, meminum minuman beralkohol, mendatangi club malam, tetapi ketika pagi hari saat terbangun dari tidurnya, ia menyesal telah melakukan hal-hal tersebut, namun pada saat menjelang malam lagi, teman-temannya mengajaknya sekaligus mentraktirnya melakukan maksiat, pemuda ini tergoda lagi untuk melakukan maksiat, kemudian pagi harinya ia tersadar lagi.

Dari kisah diatas, timbul sebuah pertanyaan :

“Bagaimana cara kita menyadarkan pemuda tersebut agar bertaubat yang sebenar-benarnya?”

Memang pada saat di usia muda, masa masa dimana pertumbuhan manusia, dimasa ini godaan syaiton sangatnya berat. Didalam agama islam benar-benar mensyariatkan dan menurunkan hukum-hukum yang mendukung usia setiap manusia, diantara nya pada usia muda perhatian islam sangatlah besar.

Banyak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan khusus tentang para pemuda, misal Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Pada hadits diatas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dari 7 golongan tersebut, salah satunya yaitu golongan pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah dan dapat menahan hawa nafsunya. Jadi pujian kepada pemuda secara khusus karena mereka mempunyai keistimewaan kalau mampu untuk mengatasi hal-hal tersebut.

Jika diusia muda kita berpegang teguh terhadap Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong kita, tetapi banyak sekali godaan-godaan dari luar yang sangat besar bagi para pemuda. Maka dari itu para pemuda dipuji secara khusus oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam.

Seperti halnya dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal pernikahan. diriwayat-kan oleh Al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:


يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).’”

Pada hadits diatas menjelaskan seorang pemuda yang siap untuk menikah, disebutkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam untuk seorang pemuda lagi. MasyaAllah luar biasa.

Maka dari itu seorang pemuda yang menginginkan kebaikan untuk dirinya dan juga orang tua yang melihat para pemuda yang masa kini semakin buruk kelakuannya, hendaknya mengarahkan akan-anaknya untuk belajar agama. Sesungguhnya penjagaan sebaik-baiknya adalah penjagaan agama Islam,  karena dalam Islam banyak mengajarkan mulai dari pendidikan anak sejak kecil sampai remaja, maka ia akan dijaga dengan sempura oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ditulis Oleh Ustadz Abu Utsman Kharisman Syarh Hadits Ke-19 Arbain anNawawiyyah

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ  [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي   الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”

(HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi: “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”)

Pada awal kisah tadi, kita kembali kepertanyaan “Bagaimana cara kita menyadarkan pemuda tersebut agar bertaubat yang sebenar-benarnya?”, salah satu faktor penyebab pemuda tersebut terjerumus kembali kedalam kemaksiatan adalah karena pergaulannya, lingkungannya.

Pada hakekatnya manusia cenderung mengikuti seseorang yang sering bersamanya, hal ini bisa dimanfaatkan oleh kita untuk kebaikan melaikan juga dimanfaatkan oleh syaiton untuk menggoda agar kita tersebut berbuat keburukan.

Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata :

“Kawan pendamping yang sholeh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya.” (HR. Bukhari)

Maka dari itu ketika kita ingin berpergian, ingin berhijrah, hendaknya memilih tempat yang lingkungannya baik.

Maka tipsnya adalah hindari lingkungan yang buruk, dekat kan pemuda ini dengan lingkungan yang baik,  tempat-tempat yang sering melakukan pengajian-pengajian, dimana disitu kita bisa mendapatkan nasihat, ketika pemuda tersebut turun imannya, InsyaAllah akan ada yang merangkulnya serta mengajaknya kedalam kebaikan.


Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ciri-Ciri Hati Yang Selamat – Ustadz Abu Yahya Badru Salam, LC.




السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Aamiin..

Postingan kali ini saya akan menjelaskan sebuah pertanyaan yang simple, pertanyaan yang dapat membuat kalian yang mendengan jawaban ini tersadar dan sesegera memantapkan iman, Aamiin.

Berikut pertanyaannya :

Bagaimana ciri-ciri hati yang selamat dan membuat kita bisa masuk surga?

Mari kita jawab, Dalam Kitab Ighatsatul Lahfan, Imam Ibnu Qayyim menyebutkan tanda ciri hati yang selamat :

1. Lebih memperhatikan lurusnya amal daripada amal itu sendiri, maksudnya sebelum ingin beramal, dia ingin luruskan amalannya.

2. Hati yang selamat dan sehat akan merasakan masuknya penyakit hati, sebagaimana badan yang sehat akan merasakan penyakit yang masuk kedalam dirinya, misal kalo kita lagi sehat, lalu terkena flu sedikit, kita akan merasakan pusing, gaenak badan, kenapa? karena selama ini badan kita sehat. Demikian pula ketika hati yang sehat akan merasakan sakitnya dosa yang masuk dihatinya, sehingga menimbulkan kegelisahan, maka dari itu kalau hati kita sehat, kita masih bisa mendeteksi dosa yang masuk kedalam hati, bisa kita lihat tandanya yaitu gelisah, tidak tenang.

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain,


عن وابصة بن معبد رضي الله عنه قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم , فقال: جئت تسأل عن البر؟ قلت: نعم. قال: استفت قلبك. البر مااطمأن إليه النفس واطمأن إليه القلب. والإثم ماحاك في النفس و تردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك.

Dari Wabishah bin ma’bad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau bersabda(artinya): “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292))

Dalam hadits tersebut, yang bertanya adalah seorang sahabat, dimana seorang sahabat itu hatinya bersih, karena yang hatinya bersih masih merasakan sakitnya dosa. Tetapi, jika ada orang yang biasa berdosa, yakinlah dia tidak akan merasakan sakitnya dosa. Kita ambil contoh jika waktu kecil kita pilek, sampai besar masih pilek, pasti ketika ditanya “apakah kamu sehat?” maka dipastikan dia akan menjawab “sehat pak”, orang ini tidak merasa bahwa dia selama itu sakit, sama pula dengan orang yang terbiasa melakukan dosa, ketika ditanya “apakah hati kamu sehat?” dipastikan dia akan menjawab “sehat kok, saya tidak merasakan kegelisahan”

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Karena hati nya sudah terbalik, yang buruk dianggap sebagai sesuatu yang baik.

Maka dari itu, perhatian kepada hati kita harus lebih. Ada sebuah surat yang dimana Allah subhanallahu ta’ala paling banyak bersumpah, yaitu surat As-Syams dimana terdapat 11 sumpah bisa kalian lihat dibawah

No.
Teks terjemahan
Teks Qur’an dan latinnya
001
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,” – (QS.91:1)
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
Wasy-syamsi wadhuhaahaa
002
“dan bulan, apabila mengiringi-nya,” – (QS.91:2)
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا
Wal qamari idzaa talaahaa
003
“dan siang, apabila menampakkan-nya,” – (QS.91:3)
وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاهَا
Wannahaari idzaa jalaahaa
004
“dan malam, apabila menutupi-nya,” – (QS.91:4)
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا
Wallaili idzaa yaghsyaahaa
005
“dan langit, serta pembinaan-nya,” – (QS.91:5)
وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا
Wassamaa-i wamaa banaahaa
006
“dan bumi, serta penghamparan-nya,” – (QS.91:6)
وَالأرْضِ وَمَا طَحَاهَا
Wal ardhi wamaa thahaahaa
007
“dan (Demi) jiwa, serta penyempurnaannya (ciptaannya),” – (QS.91:7)
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
Wanafsin wamaa sau-waahaa
008
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,” – (QS.91:8)
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa
009
“sesungguhnya beruntunglah, orang yang mensucikan jiwa itu,” – (QS.91:9)
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Qad aflaha man zakkaahaa
010
“dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotori-nya.” – (QS.91:10)
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Waqad khaaba man dassaahaa
011
“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya), karena melampaui batas,” – (QS.91:11)
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا
Kadz-dzabat tsamuudu bithaghwaahaa
012
“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,” – (QS.91:12)
إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا
Idziinba’atsa asyqaahaa
013
“lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: ‘(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya’.” – (QS.91:13)
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا
Faqaala lahum rasuulullahi naaqatallahi wasuqyaahaa
014
“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb-mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah),” – (QS.91:14)
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا
Fakadz-dzabuuhu fa’aqaruuhaa fadamdama ‘alaihim rabbuhum bidzanbihim fasau-waahaa
015
“dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.” – (QS.91:15)
وَلا يَخَافُ عُقْبَاهَا
Walaa yakhaafu ‘uqbaahaa

Dari ayat 1-8, Allah subhanallahu ta’ala bersumpah hanya untuk menyebutkan tentang pentingnya mensucikan hati di ayat ke 9.

Al Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

“Dahulu para sahabat tidak diberikan oleh Allah keutamaan karena banyaknya amal, tetapi mereka diberikan keutamaan karena beningnya hati mereka”

Maka dari itu orang yang berilmu lebih fokus kepada hati mereka, sedangkan orang yang kurang berilmu lebih fokus kepada amalan badan. Karena bisa kita lihat di lingkungan kita, ada orang yang amalan badannya luar biasa tetapi hatinya banyak penyakitnya, akhirnya amalan solehnya malah menimbukan ujub (bangga atas amalannya karena merasa amalannya tidak dimiliki oleh orang lain)

Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Keutamaan Salat – Hadits Keutamaan Shalat


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Kali ini saya ingin sharing kepada kalian mengenai Keutamaan Salat. semoga postingan saya kali ini dapat memotivasi kalian semua agar lebih menjaga shalat-nya. Aamiin….
saya akan memberikan beberapa hadist yang menjelaskan tentang keutamaan shalat. semoga beberapa hadist berikut dapat mewakili untuk memotivasi kita dalam melaksanakan shalat dengan sempurna atau setidaknya kita dapat menjaga shalat agar tidak ada bagian yang kurang sehingga mengancam keabsahan shalat kita.

  • hadits yang pertama, dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ


“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, dia sukses dan berhasil dan jika shalatnya rusak, dia sangat rugi” (HR. Nasai dan Turmudzi)

  • hadits yang kedua, dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ ؟ قَالُوْا
لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَْءٌ .قَالَ : كَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ اْلخَطَايَا:

Apa pendapat kalian jika di depan pintu seseorang di antara kalian terdapat sungai, di dalamnya ia mandi lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran (di badannya) meski sedikit ?” Para shahabat menjawab : “Tentu tidak tersisa sedikit pun kotoran (di badannya)” Beliau berkata: “Demikian pula dengan sholat lima waktu, dengan sholat itu Allah menghapus dosa-dosa” (HR. Bukhari I/197 no.505, dan Muslim I/462 no.667, dari Abu Hurairah rodhiyallahu anhu)

  • hadits yang ketiga, dari Anas bin Malik RodhiyallahuanhuRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah memiliki Malaikat yang bertugas memanggil setiap kali shalat wajib ‘Wahai manusia, datangi api yang akan menyiksa kalian yang kalian nyalakan sendiri (dengan dosa & maksiat), lalu padamkanlah (dengan shalat).” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)

  • hadits yang keempat, Anas bin Malik Rodhiyallahuanhu, beliau mengatakan;

“Diwajibkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam 50 kali shalat pada malam isra. Kemudian dikurangi hingga tinggal lima waktu, Kemudian beliau dipanggil, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya ketetapan-Ku tidak akan berubah. Dari shalat lima waktu ini, engkau mendapatkan pahala 50’.” (HR. Ahmad, Bukhari, Turmudzi dan yang lainnya)

  • hadist yang kelima, dari Utsman bin Affan RodhiyallahuanhuRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

“Ketika datang waktu shalat wajib, kemudian seorang muslim melakukan wudhu dengan sempurna, memperhatikan khyusu dan rukuknya, maka shalat itu akan menjadi kaffarah (penebus) untuk dosa-dosa sebelumnya, selama dia tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim)

  • hadits yang ke enam, dari Abu Qatadah RodhiyallahuanhuRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.


“Pencuri yang paling jelek adalah orang yang mencuri shalatnya” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad dan Ibn Hibban)

Telah dikatakan oleh Umar bin Khattab Radhiyallahuanhu:

“Jagalah shalatmu. Ketika kau kehilangannya, kau akan kehilangan yang lainnya”

Semoga menjadi motivasi untuk kita agar lebih menjaga shalat-nya. Demikian yang bisa saya berikan. lebih lengkapnya silahkan lihat video Seri Cara Shalat Nabi: Keutamaan Sholat.

jika terdapat kesalahan mohon komentar atau contact saya. karena setiap manusia tidak jauh dari kesalahan, bahwa kebenaran hanya milih Allah SWT.

Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Keutamaan Salat – Hadits Keutamaan Shalat


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Kali ini saya ingin sharing kepada kalian mengenai Keutamaan Salat. semoga postingan saya kali ini dapat memotivasi kalian semua agar lebih menjaga shalat-nya. Aamiin….
saya akan memberikan beberapa hadist yang menjelaskan tentang keutamaan shalat. semoga beberapa hadist berikut dapat mewakili untuk memotivasi kita dalam melaksanakan shalat dengan sempurna atau setidaknya kita dapat menjaga shalat agar tidak ada bagian yang kurang sehingga mengancam keabsahan shalat kita.

  • hadits yang pertama, dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ


“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, dia sukses dan berhasil dan jika shalatnya rusak, dia sangat rugi” (HR. Nasai dan Turmudzi)

  • hadits yang kedua, dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ ؟ قَالُوْا
لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَْءٌ .قَالَ : كَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ اْلخَطَايَا:

Apa pendapat kalian jika di depan pintu seseorang di antara kalian terdapat sungai, di dalamnya ia mandi lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran (di badannya) meski sedikit ?” Para shahabat menjawab : “Tentu tidak tersisa sedikit pun kotoran (di badannya)” Beliau berkata: “Demikian pula dengan sholat lima waktu, dengan sholat itu Allah menghapus dosa-dosa” (HR. Bukhari I/197 no.505, dan Muslim I/462 no.667, dari Abu Hurairah rodhiyallahu anhu)

  • hadits yang ketiga, dari Anas bin Malik RodhiyallahuanhuRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah memiliki Malaikat yang bertugas memanggil setiap kali shalat wajib ‘Wahai manusia, datangi api yang akan menyiksa kalian yang kalian nyalakan sendiri (dengan dosa & maksiat), lalu padamkanlah (dengan shalat).” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)

  • hadits yang keempat, Anas bin Malik Rodhiyallahuanhu, beliau mengatakan;

“Diwajibkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam 50 kali shalat pada malam isra. Kemudian dikurangi hingga tinggal lima waktu, Kemudian beliau dipanggil, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya ketetapan-Ku tidak akan berubah. Dari shalat lima waktu ini, engkau mendapatkan pahala 50’.” (HR. Ahmad, Bukhari, Turmudzi dan yang lainnya)

  • hadist yang kelima, dari Utsman bin Affan RodhiyallahuanhuRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

“Ketika datang waktu shalat wajib, kemudian seorang muslim melakukan wudhu dengan sempurna, memperhatikan khyusu dan rukuknya, maka shalat itu akan menjadi kaffarah (penebus) untuk dosa-dosa sebelumnya, selama dia tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim)

  • hadits yang ke enam, dari Abu Qatadah RodhiyallahuanhuRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.


“Pencuri yang paling jelek adalah orang yang mencuri shalatnya” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad dan Ibn Hibban)

Telah dikatakan oleh Umar bin Khattab Radhiyallahuanhu:

“Jagalah shalatmu. Ketika kau kehilangannya, kau akan kehilangan yang lainnya”

Semoga menjadi motivasi untuk kita agar lebih menjaga shalat-nya. Demikian yang bisa saya berikan. lebih lengkapnya silahkan lihat video Seri Cara Shalat Nabi: Keutamaan Sholat.

jika terdapat kesalahan mohon komentar atau contact saya. karena setiap manusia tidak jauh dari kesalahan, bahwa kebenaran hanya milih Allah SWT.

Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Mau Kaya atau Sehat? – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc.



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Amin..

Umur manusia sudah ditentukan oleh Allah SWT. Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قاَلَ ;حَدَّثَناَ رَسُوْلُ اللّهِ .صلم. وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ ; إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّه أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ،  ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِماَتٍ ; رِزْقِه ، وَأَجَلِه ، وَعَمَلِه ، وَهَلْ هُوَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ – الحديث رواه أحمد –

“Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata : Telah bersabda kepada kami Rasulullah SAW – Beliau  adalah orang yang jujur dan terpercaya; “Sesungguhnya seorang diantara kamu (setiap kamu) benar-benar diproses kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud air mani; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal darah; lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal daging; kemudian malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh kedalamnya; lantas (sang janin) itu ditetapkan dalam 4 ketentuan : 1. Ditentukan (kadar) rizkinya, 2. Ditentukan batas umurnya, 3. Ditentukan amal perbuatannya, 4. Ditentukan apakah ia tergolomg orang celaka ataukah orang yang beruntung“ (HR Ahmad).

Hadis tersebut menjelaskan proses kejadian manusia dalam rahim ibunya, yaitu 40 hari pertama berwujud Nutfah (air mani laki-laki bersenyawa dengan sel telur perempuan), 40 hari kedua berproses menjadi Alaqah (segumpal darah), 40 hari ketiga berproses menjadi Mudlghoh (seumpal daging), bahwa saat berwujud Mudlghah itulah Allah SWT mengirim malaikat untuk memasangkan roh kepadanya bersamaan dengan ditetapkannya 4 ketentuan :

  • Ditentukan (kadar) rizkinya
  • Ditentukan batas umurnya
  • Ditentukan amal perbuatannya
  • Ditentukan apakah ia tergolong orang celaka atau orang yang beruntung

Maka umur sudah ditetapkan oleh Allah SWT,  Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah :

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (Dihasankan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11/240)

Dengan berjalannya waktu, manusia di bagi menjadi dua, yang kaya dan yang miskin, ada yang sehat ada yang sakit, dan ketika kenikmatan Allah SWT begitu banyak. Salah satu nikmat yang sering kita lalaikan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”

An Nawawi rahimahullah mengatakan :

Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi kalau ada pertanyaan seperti ini, kaya harta dan sehat tapi tidak beriman kepada Allah SWT, atau miskin harta dan sehat tetapi beriman kepada Allah SWT?

Maka jawablah miskin harta dan sehat tetapi beriman kepada Allah SWT, karena Rasulullah mengatakan nya didalam hadist, diatas “Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa…” tetapi dalam urusan sehat “Dan sehat bagi yang bertakwa itu lebih baik dari kaya

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah SWT berikan. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Setiap manusia selalu ingin menjadi kaya, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadits yang shahih :

 يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ

“Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan panjang umur.” [HR. Bukhâri, no: 5942, dari Anas bin Mâlik]

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang yang sehat, dan juga bertakwa kepada Allah SWT, dan apabila kita dijadikan kaya oleh Allah SWT, kita harus berusaha bertakwa kepada Allah SWT, Semoga Allah SWT memberikan kita manfaat dari apa yang sudah saya sampaikan ini,


Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Mau Kaya atau Sehat? – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc.



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Bismillahirrahmanirrahim…

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada saudara sekalian, walaupun sedikit yang saya sampaikan, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga keimanan kita semakin tinggi kepada Allah SWT. Amin..

Umur manusia sudah ditentukan oleh Allah SWT. Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قاَلَ ;حَدَّثَناَ رَسُوْلُ اللّهِ .صلم. وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ ; إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّه أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ،  ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِماَتٍ ; رِزْقِه ، وَأَجَلِه ، وَعَمَلِه ، وَهَلْ هُوَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ – الحديث رواه أحمد –

“Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata : Telah bersabda kepada kami Rasulullah SAW – Beliau  adalah orang yang jujur dan terpercaya; “Sesungguhnya seorang diantara kamu (setiap kamu) benar-benar diproses kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud air mani; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal darah; lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal daging; kemudian malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh kedalamnya; lantas (sang janin) itu ditetapkan dalam 4 ketentuan : 1. Ditentukan (kadar) rizkinya, 2. Ditentukan batas umurnya, 3. Ditentukan amal perbuatannya, 4. Ditentukan apakah ia tergolomg orang celaka ataukah orang yang beruntung“ (HR Ahmad).

Hadis tersebut menjelaskan proses kejadian manusia dalam rahim ibunya, yaitu 40 hari pertama berwujud Nutfah (air mani laki-laki bersenyawa dengan sel telur perempuan), 40 hari kedua berproses menjadi Alaqah (segumpal darah), 40 hari ketiga berproses menjadi Mudlghoh (seumpal daging), bahwa saat berwujud Mudlghah itulah Allah SWT mengirim malaikat untuk memasangkan roh kepadanya bersamaan dengan ditetapkannya 4 ketentuan :

  • Ditentukan (kadar) rizkinya
  • Ditentukan batas umurnya
  • Ditentukan amal perbuatannya
  • Ditentukan apakah ia tergolong orang celaka atau orang yang beruntung

Maka umur sudah ditetapkan oleh Allah SWT,  Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah :

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (Dihasankan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11/240)

Dengan berjalannya waktu, manusia di bagi menjadi dua, yang kaya dan yang miskin, ada yang sehat ada yang sakit, dan ketika kenikmatan Allah SWT begitu banyak. Salah satu nikmat yang sering kita lalaikan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”

An Nawawi rahimahullah mengatakan :

Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi kalau ada pertanyaan seperti ini, kaya harta dan sehat tapi tidak beriman kepada Allah SWT, atau miskin harta dan sehat tetapi beriman kepada Allah SWT?

Maka jawablah miskin harta dan sehat tetapi beriman kepada Allah SWT, karena Rasulullah mengatakan nya didalam hadist, diatas “Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa…” tetapi dalam urusan sehat “Dan sehat bagi yang bertakwa itu lebih baik dari kaya

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah SWT berikan. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Setiap manusia selalu ingin menjadi kaya, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadits yang shahih :

 يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ

“Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan panjang umur.” [HR. Bukhâri, no: 5942, dari Anas bin Mâlik]

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang yang sehat, dan juga bertakwa kepada Allah SWT, dan apabila kita dijadikan kaya oleh Allah SWT, kita harus berusaha bertakwa kepada Allah SWT, Semoga Allah SWT memberikan kita manfaat dari apa yang sudah saya sampaikan ini,


Nun walqalami wama yasthurun


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ