Gelandangan Surga

Ustadz Aris Munandar

Pernahkah Anda mendengar seorang yang mengatakan “mas klo saya jadi gelandangan di surga saja, saya sudah sangat untung” atau ada orang yang mengatakan “klo saya dapat emperan surga, saya sudah sangat-sangat bersyukur” Pernahkah Anda mendengar orang yang mengucapkan dua kalimat tadi atau kalimat semacam itu. Itulah sebuah kalimat yang menunjukkan kelemahan jiwa, menunjukkan kelemahan semangat. Dan dua kalimat tersebut adalah dua kalimat terlarang bukti adalah hal tersebut hal yang terlarang adalah sabda Nabi  شالله على محمد شالله عليه وسلم  dalam sebuah hadist yang diriwayatkan HR.Muslim

Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم mengatakan :

 فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ

“jika kalian meminta surga, jika kalian meminta kepada Allah swt maka mintalah surga firdaus.”

Perhatikan bagaimana Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم memperintahkan kita apapun amal kita, apapun keadaan kita supaya kita berdoa kepada Allah سبحانه و تعالى agar diberi surga firdaus yang merupakan derajat surga yang paling tinggi. Dalam hadits ini Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم mengajarkan kita agar kita memiliki semangat yang tinggi dalam masalah akhirat. Sehendaknya kita punya cita-cita untuk mendapatkan yang terbaik, yang ideal klo urusan akhirat sehingga jangan lempen, jangan lemah semangat dengan mengatakan “Saya cukup jadi gelandangan surga” dengan mengatakan “Klo emperan surga saja, saya sangant bersyukur” Kita harus memiliki semangat yang kuat, tekad yang membara, kita bisa ! jika kita mau, bersungguh-sungguh. Kita bisa mendapatkan surga yang paling tinggi  itulah surga firdaus. Oleh karena itu, jangan lagi katakan bahwasanya “seandainya Saya jadi gelandangan surga, Saya sudah puas”, “Seandainya Saya dapat emper surga, Saya sudah sangat-sangat bersyukur

Untuk full video bisa dilihat di bawah ini :

Catatan Kajian – Ilmu Asmaul Husna

Bismillah

Kalau kita membaca Al Quran, kita sering kali mendapati Allah menutupi ayat ayat itu dengan Asmaul Husna. seperti Allah adalah aziz dan hakim, Sebetulnya kalau kita menerenungi dan mempelajarinya. Subhanallah, disanan ada hikmah yang agung sekali bahkan ilmu yang luar biasa.

Karena setiap nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala itu menunjukkan kepada apa? kepada sifat Allah dan kepada hukum yang dari pengaruh dari pada nama tersebut. Sebuah contoh misalnya, Allah Subhahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Tabarok.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan. untuk apa? untuk Allah menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. Lalu allah mengatakan dia Allah maha aziz dan maha ghofur. aziz itu maha perkasa yang mempunyai izzah kemuilaan dan ghofur itu maha pengampun, seanan memberikan kepada kita pemahaman. apa? bahwa orang yang memperbaiki amal maka Allah akan berikan kemuliaan.

Orang yang memperbaiki amal, Allah akan jadikan ia mulia dihadapan manusia. yang kedua, orang yang memperbaiki amal, Allah akan ampunin dosa-dosanya. selain itu Allah akan muliakan ia. Subhanallah, Sesuatu yang kalau kita perhatikan luar biasa sekali.

Maka dari itu ya akhi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup ayat-ayat tersebut dengan nama-nama tersebut untuk memberitahukan kepada kita sebuah isyarat yang sangat halus dan lembut namun luar biasa dahsyat.

Contoh lain misalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “bertawakallah kamu kepada Allah yang maha Aziz dan maha Rohim” ketika Allah menyuruh kita untuk tawakal, Allah mengatakan kalau Allah itu Aziz. Aziz itu artinya yang mempunyai kemuliaan dan mempunyai keperkasaan dan kekuatan itu aziz.

Maka karena Allah mempunyai sifat izzah maka hendaklah kamu bertawakal kepada Allah. Adapun manusia, dia tidak punya izzah. Manusia itu lemah, yang memberikan izzah itu hanyalah Allah. yang memberikan berbagai macam nikmat dan kekuatan hanyalah Allah. Maka Allah Al Aziz.

Ar rohim, yang maha penyayang. Allah menyeru kita untuk kita bertawakal kepada Aziz dan Rohim seakan Allah mengatakan, kalau kamu bertawakal kepada Allah, maka Allah akan sayangi kamu. ingat, Allah lebih sayang dari pada sayang orang tua kepada Anaknya. Maka mungkin kah Allah menyia-nyiakan hamba nya yang bertawakal kepada Nya? Tidak mungkin.

Demikian kalau kita perhatikan setiap ayat-ayat yang Allah subhanahu wa Ta’ala sebutkan nama-namanya selalu sepadan dengan isi daripada ayat tersebut. terkadang nama-nama tersebut juga diletakkan sangat indah sekali. bahkan seringkali selalu Allah letakkan nama tersebut dalam sebuah redaksi kalimat yang sangat sepadan sekali.

Saya berikan contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang dimana Allah menyebutkan dirinya bersemayam di atas Arrsyh dan Rasullulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa arrasy Allah itu adalah makhluk allah yang paling besar yang Allah ciptakan. Kata Rasullullah Tidaklah langit dan bumi dibandingkan dengan kursi kecuali seperti apa kata Rasullullah  Shallallahu alaihi wa sallah? seperti cincin dibandingkan padang pasir. dan tidak lah kursi yang sangat besar dibandingkan dengan Arrasy kecuali seperti cincin dibandingkan padang pasir.

Kemudian disitu ketika Allah menyebutkan bahwa dirinya bersemayam di Arrash, Allah menyebutkan namanya Arrahman. apa itu Arrahman? Ar rahman artinya sangat luas dan dipenuhi oleh rahmat dan kasih sayangNya. Dimana rahmat Allah meluasi segala sesuatu, dimana Arrash mahkluk yang paling besar meliputi semua makhluk yang ada dibawahnya. maka demikian pula Rahmat Allah meliputi segala apa yang ada dibawahnya. dimana Allah menciptakan Arrash sebagai kasih sayang Allah kepada hambanya.

Masya Allah, betapa sangat sepadan dan luar biasa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nama-namaNya sesuai dengan redaksi daripada makna ayat-ayat yang ada pada Al Quran. memang betapa indah Al -Quran  bagi mereka yang mau memikirkannya. maka kita berusaha untuk mentadaburinya. Allah mengatakan yang artinya “apakah mereka tidak mau mentadaburi Al Quran ataukah hati mereka ada padanya”. kita tidak ingin menjadi orang-orang yang tidak mau mentadaburi Al Quran.

Ceramah Singkat – Ilmu Asmaul Husna – Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc

Setanpun Tak Sanggup

Oleh Ustadz Muhammad Yassir, Lc

Pernah buka internet ? Siapa yang menggerakkan tangan Anda untuk membuka website ? Apakah Anda ? atau Setan ? atau Malaikat ? Pernahkah Anda merasakan ada yang menggerakkan tangan untuk membuka website terlarang, tidak ada. Itu semua keinginan pribadi kita. Semua keinginan untuk membuka, keinginan untuk maju, keinginan untuk bermaksiat, keinginan untuk tidak taat itu dari kita. Klo begitu apa fungsinya Rasulullah ?, apa fungsinya para Ustadz ? Fungsinya adalah mereka hanya mengajak, mereka mengajak mari kita berbuat kebaikan, mari kita ke jalan yang benar akan tetapi yang menempuh jalan kebenaran itu sendiri adalah kita. Karena Rasulullah tidak bisa memaksa Anda, tidak bisa menarik Anda ke jalan yang benar tersebut. Tetapi Anda sendiri, apakah Anda mu atau tidak. Begitu juga setan, tidak pernah setan itu menarik tangan Anda untuk menyentuh wanita yang tidak berhak Anda  sentuh atau membuka website yang terlarang untuk dibuka. Jadi setan hanya membisikkan saja, mengajak, merayu anda “buka dan buka” yang melakukan perbuatannya adalah Anda sendiri. Allah swt berfirman

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. [Q.S Ibrahim:22]

Pada hari kiamat nanti setan akan mengaku berkata “Allah menjanjikan kepada kalian janjinya yaitu kebaikan. dan aku pun menjanjikan kepada kalian kebaikan akan tetapi aku mengingkari janjiku sendiri”.

Setan dulu menjanjikan kebaikan. “Kalau kamu berbuat seperti ini akan baik, kalau kamu berbuat seperti ini akan berhasil, berbuat seperti ini akan terkenal, berbuat seperti ini akan tersohor.” Kebaikan, tapi setan kemudian mengaku pada hari kiamat nanti namun sekarang menginkari janjiku lalu setan mengatakan “jangan kalian menghinaku, hinalah diri kalian sendiri” kenapa ? karena “sebenarnya aku tidak mampu menyesatkan kalian, yang ku mampu hanyalah , mengajak kalian membisikkan kepada kalian. Kalian sendiri yang mengikuti ajakan saya. Maka jangan menghinaku hinalah diri kalian sendiri. karena sekarang aku tidak bisa menolong kalian dan kalian juga tidak bisa menolongku.”

Jadi semuanya berasal dari diri kita sendiri, kita mau atau tidak sedangkan orang yang dari luar cuman bisa membantu. Kita tidak pintar, bisa diajari. Kita tidak mampu finansial, bisa disumbangi. Kita tidak punya kekuatan, bisa dibantu. Tapi klo kita sudah tidak mau, maka orang lain tidak bisa bilang apa-apa. Jadi semua keberhasilan kita baik di dunia, maupun di akhirat atas kemauan kita sendiri.

Adapun orang lain cuma bisa mengajak kita. Oleh karena itu, janganlah kita menyalahkan orang lain pada hari kiamat nanti. Allah سبحانه و تعالى dalam hadits qudsi mengatakan “jika pada hari kiamat nanti yang kalian dapatkan adalah ganjaran kebaikan, maka pujilah Allah. Adapun jika kalian mendapatkan ganjaran kejelakan maka janganlah kalian menghina kecuali diri kalian sendiri” Salah diri kita sendiri, mari kita memperbaiki diri sendiri.

Dosa di Mata Mukmin & Munafik

Oleh Ustadz Aris Munandar

Saudaraku seorang muslim, pernahkah anda menghadapi keadaan dimana ada seekor lalat yang hinggap di badan anda, hinggap di wajah anda, atau hinggap di hidung anda. kira-kira hal apa yang anda lakukan bila hal tersebut terjadi ? maka tentu jawabannya itu adalah suatu masalah yang sepele. Kita cukup menggerakkan tangan maka lalat tersebut akan hilang demikianlah gambaran yang nabi sampaikan dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari

“dari sahabat abdullah bin mas’ud راضي الله عنه beliau menceritakan bahwasanya orang munafik atau orang fajir, orang yang berbuat maksiat maka dia akan menilai maksiat yang dia kerjakan”

Maksiat yang dia lakukan adalah bagaikan seekor lalat yang hinggap di hidungnya kemudian dia usir cukup dengan dia gerakkan tangannya. Demikianlah sikap seorang munafik, demikianlah sikap seorang fajir. seseorang yang gemar berbuat maksiat, menilai maksiat yang dia kerjakan.
Namun wahai saudaraku lain halnya dengan seorang mukmin, seorang beriman karena nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم ketika dia terjerumus sebuah kemaksiatan maka dia merasa seakan-akan duduk dibawah sebuah gunung batu yang besar dan gunung tersebut telah condong dan ingin menimpakan berbagai bebatuan yang ada pada dirinya maka dia demikian ngeri, dia merasa ketakukan. Maka ketika dia lihat gunung tersebut akan jatuh maka dia akan berupaya untuk lari sekencang-kencangnya agar selamat dari reruntuhan dari batu-batu tersebut.

Demikian perasaan seorang mukmin ketika dia melakukan maksiat, maka dia akan segera lari meninggalkan maksiat tersebut setelah dia baru saja terjerumus di dalamnya. Dia lari sekencang-kencangnya, sekuat-kuatnya karena dia ingin terbebas darinya. Dia lari menuju Allah swt.

Oleh karena itu, mari kita lihat bersama bagaimanakah diri kita, adakah pada diri kita sifat seorang mukmin ataukah ada pada diri kita sifat seorang munafik. Seorang mukmin yang sedemikian takut dengan maksiat yang dia lakukan ataukan seorang munafik yang demikian ringan dan menganggap sepele perbuatan dosa yang dia kerjakan maka mudah-mudahan Allah selalu memberikan hidayahnya kepada kita dan memberikan kepada kita sifat seorang mukmin yang sejati

Untuk full video bisa lihat di bawah ini :

Catatan Kajian – Cinta dan benci karena siapa

Bismillah

Diantara salah satu hal yang berkaitan erat dengan al kaidah al islamiyah yaitu istilah loyal, berlepas diri dan membenci. Rasul Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Sekuat-kuat tali keimanan cinta karena Allah dan benci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Didunia ini ada dua kelompok manusia, orang kafir dan orang mukmin. Kewajiaban kita sebagai kaum muslimin untuk menerapkan konsekuensi daripada dua kalimat sahadatain yaitu adanya cinta dan benci arena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Didalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menjelaskan kepada kita tentang haramnya kita mencintai atau loyalitas kepada orang-orang kafir. Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (panggalan Q.S Al Maidah:51)

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tidaklah engkau Muhammad mendapati sekelompok orang yang beriman kepada Allah dan mereka membenci orang-orang yang memusuhi  Allah, menentang Allah. baik orang tua mereka sendiri, anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau karib kerabat mereka.

Mereka adalah orang-orang yang kata Allah Subhanahu wa Ta’ala telah allah tanamkan keimanan dalam hati mereka. Ciri orang beriman adalah mereka tidak punya loyalitas kepada orang-orang kafir.

Maka dari sinilah kita mengetahui kewajiban kaum muslimin untuk mereka membenci orang-orang kafir tersebut meskipun kebencian tidak melampaui batas yang tidak sampai mendzolimi, yang tidak melampaui batasan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam urusan dunia kita boleh berbuat baik kepada mereka namun dalam urusan agama harus betul betul membenci dengan hati kita terhadap orang kafir tersebut. Kemudian juga kewajiban kita untuk kita tidak mengikuti jejak orang-orang kafir baik dalam aqidah kita, ibadah kita, pakaian kita, dan lain sebagainya.

Diantaranya Rasullullah Shallallahu alaihi wa Sallam berkata “selisihilah orang orang yahudi. perihalah jenggot dan cukurlah kumis” maka dalam bentuk kita menyelisihi orang yahudi tidak memiliki loyal ke orang yahudi maka kita memelihara  jenggot tersebut.

Maka mereka-mereka yang tidak mau melakukan hal ini maka mereka telah mengikuti jejak orang Yahudi. yang mana Rasul mengatakan “dan lebih dari itu, diantara bentuk orang itu ber-wala’ kepada orang-orang kafir yaitu dengan mengikuti akidah mereka.

Kalau orang-orang kafir menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka kalau kaum muslimin ada yang menyembah selain Allah maka mereka telah mengikuti dan ber-wala’ kepada orang-orang kafir tersebut. diantaranya ketika seorang muslim, meminta minta kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam ingin dientas kan musibah dari dirinya dengan cara bentuk lain semisal sumpah maka ini bentuk menyerupai orang orang Nasrani.

kewajiban kita kamu muslimin untuk meninggalkan perayaan-peraaan orang-0rang kafir diantaranya perayaan tahun baru yang dimana seharusnya kita sebagai umat islam harus menghindari hal tersebut

Bara’ ada tiga macam yaitu yang pertama benci 100% yaitu membenci orang-orang kafir yang dimana tidak ada kecintaan sama sekali kepada orang kafir tersebut. kemudian yang kedua al wala’ 100% cinta kepada para sahabat Rasullullah Shallalau wa Sallam. kemudian yang ketiga wala’ wal bara’ yaitu sesua kadar seseorang yaitu seperti seorang mukmin yang berbuat maksiat atau seorang mukmin yang berbalik ke bid’ah-an kita cinta karena keimanannya dan kita cinta karena kemaksiatannya ataupun ke-bid’ahannya tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita orang-orang cinta dan membenci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala

Ceramah singkat – Cinta dan Benci karena Siapa – Ustadz Abdurrahman Thoyib, Lc

Catatan Kajian – Kesempatan Untuk Bermaksiat

bismillahirrohmanirrohim

saudaraku seiman yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika berada ditempat yang sepi yang dimana mata terjaga dari melihat yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Telinga terjaga dari mendengarkan dari yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tangan dan kaki terjaga dari mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. kemudian juga kemaluan terjaga dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saya sempat berpikir kalau seandainya saya berada di sebuah tempat yang ditempat tersebut saya memiliki kesempatan untuk bermaksiat, apakah saya akan sanggup melawan maksiat tersebut. Saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan untuk saya menjauhi maksiat tersebut.

tetapi yang saya ingin tekankan disini bahwa kesempatan untuk tidak bermaksiat yang diberikan oleh Allah Subhanu wa Ta’ala adalah nikmat. Salah satu nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar.

Seseorang tidak diberikan waktu, tidak diberikan kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah adalah sebuah nikmat yang terbesar dan tidak semua orang diberikan seperti itu, tidak semua orang diberikan kesempatan untuk jauh dari maksiat.

Ada sebagian orang terkadang dia benar-benar diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemaksiatan maka bapak-ibu saudara-saudari yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersyukurlah.

Jika Anda tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermaksiat karena itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. jika Anda tidak diberikan ruang, untuk melakukan dosa kepada Allah Subhanu wa Ta’ala karena itu salah satu pemberian terbesar yang Allah berikan kepada Anda.

Jika Anda tidak pernah bahkan tidak pernah terpikirkan untuk meninggakan untuk meninggalkan sholat, meninggalkan puasa ramadhan, kemudian mencuri, membunuh, berzinah, minum khamar. Tidak pernah terpikirkan oleh Anda maka yakini itu adalah sebuah nikmat yang terbesar dari nikmat-nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Anda.

Dan akhirnya dari sini kita memang dapat mengambil pelajaran, sungguh begitu besar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. diantaranya adalah tidak diberikan seorang hamba kesempatan untuk melakukan maksiat, untuk melakukan sebuah dosa.

ini merupakan tadabbur atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ibrahim yang artinya “dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah kalian tidak akan pernah menghitungnya dan salah satu nikmat Allah yang terbesar seseorang tidak diberikan kesempatan untuk bermaksiat.

Dan satu poin lagi, kalau begitu jangan coba-coba bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena berarti  Anda sudah menghilangkan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Anda

Ceramah singkat – Kesempatan untuk bermaksiat – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

Berlaku Adil Pada Diri Sendiri

Oleh Ustadz Aris Munandar

Diantara prinsip pokok ajaran islam adalah islam memerintahkan untuk menegakkan keadilan. Allah swt hanya memerintahkan keadilan maka segala sesuatu yang bertolak belakang dengan keadilan satu hal yang tidak mungkin Allah perintahkan dan diantara bentuk keadilan adalah keadilan terhadap diri sendiri maka kita tidak boleh dzalim meskipun kepada badan kita sendiri, kita wajib adil meskipun dengan badan-badan kita sendiri. Oleh karena itu ada beberapa contoh yang menunjukkan hal ini.

Yang pertama di antara ajaran Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم adalah kita diperintahkan untuk jika memakai alas kaki maka tidak boleh satu kaki, kaki kanan misalnya diberi alas kaki disebelah kiri tidak. Yang Nabi ajarkan dua-duanya diberi alas kaki atau dua-duanya tanpa alas kaki. Maka kita dilarang untuk berjalan dengan satu alas kaki, berjalan dengan salah satu kaki diberi alas kaki sedangkan yang lain tidak diberi alas kaki. Kenapa demikian ? diantara hikmahnya adalah sikap adil terhadap kaki, sikap adil kepada badan. Jangan sampai satu kaki itu kena aspal yang panas sedangkan satu kaki yang lain aman dari panas. Satu kaki itu aman dari kotoran, aman dari najis sedangkan yang lain tidak. Maka dalam rangka mewujudkan keadilan terhadap badan maka kita dilarang menggunakan satu alas kaki saja. Pilihannya adalah dua kaki tersebut diberi, dua-duanya diberi alas kaki atau dua-duanya tanpa alas kaki.

Demikian juga kaum muslimin yang berbahagia diantara aturan islam melarang kita atau Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم melarang kita satu model cukuran rambut yang disebut dengan coza. Satu bagian dari kepala itu bersih tanpa rambut sedikitpun. Sedangkan, bagian yang lain lebat. Yang satu diplontos tanpa menyisakan satu helai rambut pun yang lain lebat. Maka model rambut semacam ini dilarang oleh Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم. Diantara hikmahnya karena model rambut semacam ini dzalim kepada badan. Tidak adil kepada badan sebagian kepala terlindung dari sinar matahari karena sebagian kulit kepala terlindng dari sinar matahari karena ada rambut yang lebat. Menutupi rambut kepala namun sebagian yang lain tidak terlindung sinar matahari maka disini didapatkan ketidakadilan terhadap kulit kepala kita sendiri. Itulah hikmah kenapa Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم melarangnya.

Demikian pula diantara ajaran Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم ketika kita duduk di satu tempat kita dilarang duduk di tempat yang sebagian badan kita terkena sinar matahari sedangkan bagian badan yang lain terlindungi dari sinar matahari. Nabi memberikan pilihan kepada kita, seluruh badan kita terlindungi matahari atau seluruh badan terkena sengatan sinar matahari. Adapun sebagian badan terlindung sinar matahari sedangkan sebagian yang lain terkena sengatan sinar matahari maka duduk ditempat semacam ini satu hal yang Nabi larang diantara hikmahnya adalah karena disini dapat unsur ketidakadilan kepada badan sendiri. Ada badan yang terlindung dari terik sinar matahari dan ada yang tidak. Maka ini bentuk tidak adil kepada badan maka ini diantara bukti nyata betapa islam menjunjung tinggi asas keadilan dan termasuk yang diperintahkan adalah keadilan dan sikap adil kepada badan kita sendiri

Untuk full video bisa dilihat di bawah ini :

Catatan Kajian – Dunia hanya sementara

Bismillah

Saudara-saudari kaum muslimin dan muslimah yang senantiasa dirahmat oleh Allah dan diberkahi oleh Allah. cobalah lihat Alam ini, Subhanallah. sungguh menakjubkan. lihatnlah semesta ini, subhanallah, alangkah indahnya. keindahan dunia ini sering membuat kita lalai.

Alam semesta ini serasa dan serasi laksana bidadari yang tak jarang membuat kita lupa bahwa dunia ini hanya persinggahan dan bukan tempat yang abadi. lihatlah ombak yang pasang surut yang menggoda seperti dunia yang menyapa tepian hati setiap manusia agar mencoba dan mencicipi.

Tetapi ingat wahai saudara-saudara, satu hal yang pernah diingatakan oleh nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallah, beliau sangat khawatir, beliau sangat cepat dan takut dunia ini dengan segala keindahan dan gemerlapnya melalaikan umatnya

Nabi kita kita Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menegaskan bahwa bukan kesyirikan yang paling beliau takuti terhadap umatnya tetapi yang paling ditakuki Rasullullah adalah ketika dunia ini dibetangkan, dibukakan untuk umatnya

Lalu manusia berlomba lomba untuk mengejar dunia tersebut. saling sikut, tidak lagi peduli halal dan haram, tidak lagi peduli hubungan persaudaraan ( ukhuwah) . maka dunia kata Rasullullah akan membinasakan kalian jika kalian memperebutkannya. sebagaimana telah membinasakan umat-umatnya terdahulu.

Dunia ini yang membuat laksana buih-buih dilautan tercerai berai diterjang oleh gelombang, banyak tetapi tidak memiliki kekuatan, banyak tetapi lemah sehingga musuh-musuh islam tidak lagi takut kepada mereka yang padahal dulu Allah berikan kemenangan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan orang orang yang setia mengikuti beliau.

Karena cinta kepada dunia yang berlebih-lebihan, Allah hilangkan rasa takut musuh musuh tersebut kepada umat islam dan Allah timpakan di hati umat islam yaitu kelemahan. yaitu cinta kepada dunia dan takut kepada kematian.

Saudara-saudari kamu muslimin dan muslimat, kita memang hidup didunia, kita berjalan diatas bumi, kita merasakan segala bentuk kenikmatan, kita menyaksikan keindahan alam semesta. tetapi satu hal yang mesti kita ingat, ini hanya jembatan menuju akhirat, ini hanyalah tempat bercocok tanam dan diakhirat kelak kita akan menuai.

Suatu ketika Rasullullah menepuk seorang pemuda, lalu beliau berkata hiduplah didunia seolah-olah anda adalah asing dan tidak akan menetap lama didunia itu, atau anda sedang dalam perjalalanan, atau menyebrang jalan. anda mempunyai tujuan dunia ini hanya persinggahan seperti anda lelah dan bernhenti sejenak, setelah beristirahat barulah anda harus melanjutkan kembali perjalanan  agar sampai tujuan

Rasullullah hidup di dunia, dibukakan untuk beliau pundi-pundi dunia. tetapi Rasulullah lebih memili Allah, lebih memilih akhirat. mari kita teladan Nabi kita, ambil didunia apa yang bisa menjadi bekal untuk kita untuk menuju Allah. jangan perberat pundak anda dengan segala macam kelezatan yang haram, mubah yang berlebih-lebihan sehingga memberatkan anda untuk melangkah menuju Allah.

Ambil yang cukup sebagai bekal dari yang halal yang diberkahi oleh Allah. gunakan untuk menguatkan diri anda, melangkahkan kaki menuju Nya. Dengan demikian, mudah mudahan kita bisa sampai keperjalanan yang kita tuju. mudah-mudah dengan demikian Allah mengembalikan islam.

 

Ceramah singkat – Dunia Hanya Sementara – Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc

Kunci Syarat Masuk Surga

Oleh Ustad Aris munandar

Pernahkah anda sejenak memperhatikan kunci-kunci yang kita miliki. Adakah pernah anda jumpai kunci yang tidak memiliki gigi, tentu itu suatu hal yang tidak akan pernah kalian jumpai, sebuah kunci yang tidak memiliki gigi. Seandainya kunci tersebut hanya sebuah besi yang polos begitu saja tentu dia tidak akan bermanfaat sebagai kunci maka demikianlah sifat semua kunci dia itu harus memiliki gigi tidak boleh tidak ada gigi pada setiap kunci. Maka demikian juga kunci surga, dan kunci surga adalah kalimat syahadat Pernahkah anda sejenak memperhatikan kunci-kunci yang kita miliki. Adakah pernah anda jumpai kunci yang tidak memiliki gigi, tentu itu suatu hal yang gk akan pernah kalian jumpai, sebuah kunci yang tidak memiliki gigi. Seandainya kunci tersebut hanya sebuah besi yang polos begitu saja tentu dia tidak akan beramanfaat sebagai kunci maka demikianlah sifat semua kunci dia itu harus memiliki gigi tidak boleh tidak harus ada gigi pada setiap kunci. Maka demikian juga kunci surga, dan kunci surga adalah kalimat syahadat “laa ilaha illallah”.
Kunci tersebut kalimat “laa ilaha ilallah” adalah kunci surga yang bermanfaat untuk membuka pintu surga manakala anda datang menghadap Allah swt di hari kiamat dengan membawa kunci yang punya gigi. seandainya anda datang pada hari kiamat, mendatangi pintu surga dan anda membawa kunci yang tidak memiliki gigi tentu anda tidak akan bisa membuka pintu surga. Tapi, jika anda datang pada hari kiamat kedepan pintu surga dengan membawa kunci yang memiliki gigi maka anda akan bisa memasukinya.
Suatu hari suatu ketika ada seseorang berkata kepada salah seorang ulama ta’biin yang bernama wahab bin nubainah. Orang tersebut mengatakan

“bukanlah laa ilaha illallah adalah pintu surga?”

maka dengan cerdas wahab bin nubainah mengatakan

“betul, laa ilaha illallah adalah pintu surga. Namun tidak ada satupun kunci kecuali dia memiliki gigi” jika anda datang mendatangi sebuah pintu dan anda membawa kunci namun kunci tersebut cuma adalah kunci yang tidak memiliki gigi maka pintu tersebut tidak akan pernah dibukakan untuk anda. Jika anda datang dengan membawa kunci yang memiliki gigi, maka anda akan bisa memasuki pintu tersebut.
Demikian perkataan indah yang disampaikan seorang ulama di masa tabiin wahab bin nubaih. Dia ingatkan kepada kita sekalian, bahwasanya “laa ilaha ilallah” memang betul dia adalah kunci surga, Namun tidak ada satupun kunci kecuali harus bergigi klo kunci tersebut tidak bergigi maka dia tidak akan memiliki guna dan faedah. Dan apakah itu gigi untuk kunci surga “laa ilaha illallah” gigi-gigi yang ada pada kunci surga “laa ilaha illallah” itulah beramal dengan isi kandungan “laa ilaha illallah”.
Artinya “laa ilaha illallah” tidak hanya sekedar diucapkan, “laa ilaha ilallah” tidak hanya dilisankan, “laa ilaha ilallah” menuntut amal yang harus dikerjakan oleh orang yang mengucapkannya dan amalnya adalah meninggalkan segala bentuk ibadah selain kepada Allah swt dan bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allah swt.
Maka setiap kita wahai saudaraku seorang muslim memiliki kunci “laa ilaha ilallah” namun sekarang setiap kita mengucapkan “laa ilaha ilallah” maka kita memiliki kunci surga itu kunci “laa ilaha ilallah” tinggal pilihan ada di tangan kita atau apakah kita jadikan kunci tersebut kunci yang polos tanpa gigi sehingga sia-sia dan tidak ada gunanya ataukah kunci tersebut yang memiliki gigi-gigi sehingga kunci tersebut menjadi kunci yang bermanfaat dan dengannya kita akan masuk surga Allah yang penuh dengan kenikmatan.

Untuk full video bisa di lihat di :

Hakekat Takwa

Oleh Ustadz Aris Munandar

Saudaraku pernahkah anda melewati satu jalan yang disana terdapat banyak pohon berduri, sebagaimana yang kita lihat di samping kita. Apa yang kira-kira kita lakukan ketika kita melewati sebuah jalan kiri dan kanan ada pohon-pohon berduri atau semak-semak yang berduri maka tentu kita akan menyinsingkan pakaian kita dan kita akan berjalan dengan hati-hati maka demikianlah gambaran orang yang bertakwa. Dia adalah orang yang berhati-hati terhadap berbagai hal yang dilarang oleh Allah swt karena larangan-larangan Allah swt itu adalah bagaikan duri yang ada dalam jalan hidup kita ini jika kita tidak hati-hati maka kita akan terkena duri dan duri itu sakit. Tidak ada orang yang bahagia terkena duri.
Oleh karena itu, pernah suatu hari sahabat Umar bin Khatab راضي الله عنه  bertanya kepada Zubair bin Taat راضي الله عنه . pertanyaannya singkat, apa itu taqwa ? maka mendapatkan pertanyaan semacan ini sahabat Zubair bin Taat راضي الله عنه balik bertanya kepada Amirul Mukminin Umar bin Khatab راضي الله عنه

“apa yang anda lakukan jika berjalan disatu jalan yang penuh dengan duri?”

maka Umar راضي الله عنه pun menjawab

“aku akan mengangkat pakaianku supaya tidak terkena duri dan aku akan berjalan dengan penuh kesungguhan dan hati-hati”

maka komentar dan sahabat Zubair bin Taat راضي الله عنه

“itulah taqwa”

maka demikianlah sikap orang yang bertaqwa menilai bahwa dosa adalah duri yang akan menyakiti hidupnya yang akan menyakiti masa depannya dan merusaknya oleh karena itu maka mereka ketika melihat keburukan, kemaksiatan dan larangan Allah maka mereka akan hati-hati dan berupaya menjauhinya sejauh-jauhnya. muka kita adalah termasuk diantara mereka

Untuk full video bisa dilihat di