[BEROPINI] Pencitraan Sosial Media

Bismillah 
Menampilakn Diri
Property of: ngasih.com
Sosial Media adalah sebuah platform digital yang memungkinkan pengguna melakukan interaksi tanpa bertemu secara langsung. Tren penggunaan sosial media mengalami peningkatan. mengutip dari laman techno.kompas.com “Dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite, terungkap bahwa masyarakat Indonesia sangat gemar mengunjungi media sosial. Tercatat, setidaknya kini ada sekira 130 juta masyarakat Indonesia y
ang aktif di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya.
Dalam laporan ini juga terungkap jika pada Januari 2018, total masyarakat Indonesia sejumlah 265,4 juta penduduk. Sedangkan penetrasi penggunaan internet mencapai 132,7 juta pengguna.”
Dari kutipan berita yang menyajikan data tersebut. Hampir sebagin penduduk Indonesia sudah menggunakan sosial media untuk melakukan interaksi untuk saling terhubung satu sama lain. 
Banyak tujuan dari setiap individu menggunakan sosial media. Sebagai tempat sharing, mencari ilmu, mendapatkan teman, hingga sebagai ajang pencitraan . 
Bicara tentang pencitraan, sosial media sering sekali dijadikan sebagai salah satu ajang menampilkan portofolio atau pencitraan diri . Menujunkan sebuah status tentaang Job A enak, Job B enak, melihatkan karya serta kehidupan pribadi .
Setiap orang bisa mempunyai prespektif yang berbeda tentang pencitraan diri di sosmed. Agar followernya bisa termotivasi, agar folowernya bisa semangat berkarya dan lain sebagainnya.
Itu wajar, kadang kita sebagai manusia ingin membuat orang tetap semangat dan bekarya. bisa terinpirasi. Tapi disisi lain, dari pengalaman saya sendiri ketika menampilkan portofolio atau pencitraan diri, kadang selalu menjadi bahan diskusi berlebih dan banyaknya pujian di komentar. 
dan itu terjadi berulang.
Kemudian pada hari ini saya mendapat pencerahan atau hidayah bahwa di follower saya belum tentu semua adalah orang2 yang termotivasi ketika melihat postingan portofolio atau pencitraan diri saya.  melihat dari sudut pandang follower,  ada yang merasa ingin seperti kita, hingga ada yang ingin mengikuti apapun yang kita lakukan {melakukan A,B,C}. agar bisa seperti kita
Sometime OK, untuk referensi mengikuti path kita, tapi kalau sudah candu dengan mengikuti path si A, B, C maka akan membuat dia bingung melakukan semua list kegiatan dari “ROLE MODEL”nya di sosial media.
Itu karena saya mendapatkan pesan/ DM dari follower atau teman yang selalu memuji, yang saya khawatirkan mereka dibingungkan untuk mengikuti hal-hal yang justru membuat mereka Iri dan ingin seperti kita . 
Setiap orang punya jalan dan kelebihan masing-masing tinggal bagaimana dia bisa megelola dan mengembangkannya . 
Tapi ketika news feed sosial media mereka menampilkan pencitraan kita terus apakah itu akan baik untuk mereka ? 
It’s OK sosmed digunakan sebagai tempat pencitraan agar mendapatkan job tertentu, karena saya juga melihat potensi hire dari sosmed juga bagus.
Tapikan ada tempat yang lebih tepat untuk menampilkan portofolio kita let say Github<untuk Coder>, Dribble <Untuk Designer>. 
serta Linkedin sebagai tempat portofolio dan banyak rekrutmen HRD pada nongkrong di Linkedin
khusus untuk SOSMED IG <karena sosmed ajang pamer foto dan pencitraan>   lebih cermat saat posting dan berhati-hati terhadap pujian dan tetap tawadhu  dan tetap bergerilya tanpa harus dilihat banyak orang . 
Kalau ada kesalahan mohon maaf  
Teman-teman bisa tulis di komentar jika mau berdiskusi 😀
Terima Kasih

[BEROPINI] Pencitraan Sosial Media

Bismillah 
Menampilakn Diri
Property of: ngasih.com
Sosial Media adalah sebuah platform digital yang memungkinkan pengguna melakukan interaksi tanpa bertemu secara langsung. Tren penggunaan sosial media mengalami peningkatan. mengutip dari laman techno.kompas.com “Dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite, terungkap bahwa masyarakat Indonesia sangat gemar mengunjungi media sosial. Tercatat, setidaknya kini ada sekira 130 juta masyarakat Indonesia y
ang aktif di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya.
Dalam laporan ini juga terungkap jika pada Januari 2018, total masyarakat Indonesia sejumlah 265,4 juta penduduk. Sedangkan penetrasi penggunaan internet mencapai 132,7 juta pengguna.”
Dari kutipan berita yang menyajikan data tersebut. Hampir sebagin penduduk Indonesia sudah menggunakan sosial media untuk melakukan interaksi untuk saling terhubung satu sama lain. 
Banyak tujuan dari setiap individu menggunakan sosial media. Sebagai tempat sharing, mencari ilmu, mendapatkan teman, hingga sebagai ajang pencitraan . 
Bicara tentang pencitraan, sosial media sering sekali dijadikan sebagai salah satu ajang menampilkan portofolio atau pencitraan diri . Menujunkan sebuah status tentaang Job A enak, Job B enak, melihatkan karya serta kehidupan pribadi .
Setiap orang bisa mempunyai prespektif yang berbeda tentang pencitraan diri di sosmed. Agar followernya bisa termotivasi, agar folowernya bisa semangat berkarya dan lain sebagainnya.
Itu wajar, kadang kita sebagai manusia ingin membuat orang tetap semangat dan bekarya. bisa terinpirasi. Tapi disisi lain, dari pengalaman saya sendiri ketika menampilkan portofolio atau pencitraan diri, kadang selalu menjadi bahan diskusi berlebih dan banyaknya pujian di komentar. 
dan itu terjadi berulang.
Kemudian pada hari ini saya mendapat pencerahan atau hidayah bahwa di follower saya belum tentu semua adalah orang2 yang termotivasi ketika melihat postingan portofolio atau pencitraan diri saya.  melihat dari sudut pandang follower,  ada yang merasa ingin seperti kita, hingga ada yang ingin mengikuti apapun yang kita lakukan {melakukan A,B,C}. agar bisa seperti kita
Sometime OK, untuk referensi mengikuti path kita, tapi kalau sudah candu dengan mengikuti path si A, B, C maka akan membuat dia bingung melakukan semua list kegiatan dari “ROLE MODEL”nya di sosial media.
Itu karena saya mendapatkan pesan/ DM dari follower atau teman yang selalu memuji, yang saya khawatirkan mereka dibingungkan untuk mengikuti hal-hal yang justru membuat mereka Iri dan ingin seperti kita . 
Setiap orang punya jalan dan kelebihan masing-masing tinggal bagaimana dia bisa megelola dan mengembangkannya . 
Tapi ketika news feed sosial media mereka menampilkan pencitraan kita terus apakah itu akan baik untuk mereka ? 
It’s OK sosmed digunakan sebagai tempat pencitraan agar mendapatkan job tertentu, karena saya juga melihat potensi hire dari sosmed juga bagus.
Tapikan ada tempat yang lebih tepat untuk menampilkan portofolio kita let say Github<untuk Coder>, Dribble <Untuk Designer>. 
serta Linkedin sebagai tempat portofolio dan banyak rekrutmen HRD pada nongkrong di Linkedin
khusus untuk SOSMED IG <karena sosmed ajang pamer foto dan pencitraan>   lebih cermat saat posting dan berhati-hati terhadap pujian dan tetap tawadhu  dan tetap bergerilya tanpa harus dilihat banyak orang . 
Kalau ada kesalahan mohon maaf  
Teman-teman bisa tulis di komentar jika mau berdiskusi 😀
Terima Kasih

Bonus Demografi Indonesia tahun 2030

Melihat pertumbuhan penduduk indonesia yang naik setiap tahunnya dan tingginya angka kelahiran bayi berarti juga bertambahnya penduduk dengan usia produktif. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar di prediksikan pada tahun 2o3o  indonesia akan mempunyai penduduk dengan usia produktif yang melimpah, yakni antara usia 25-35 tahun.  

Mengutip dari lipi.go.id  “Walaupun data menunjukan 70% dari total jumlah penduduk kita adalah usia angkatan kerja, namun kualitasnya masih relatif rendah sehingga berdampak pada pasar tenaga kerja di Indonesia,” terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pudjiastuti, dalam seminar “Daya Saing Penduduk Menuju Ketahanan Bangsa” Kamis (10/3) di Jakarta. Indonesia saat ini menghadapi persoalan yang cukup pelik terkait kependudukan terutama rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di usia produktif. Menurut Nuke hal ini berbahaya karena era globalisasi memiliki tuntutan tinggi bagi tenaga kerja. Jika masyarakat usia angkatan kerja tidak mampu bersaing, maka sulit bagi mereka untuk mendapat pekerjaan. “Kehidupan perekonomian akan terganggu. Kemiskinan juga akan meningkat sejalan dengan rendahnya kualitas pendidikan usia angkatan kerja,” tegasnya.
Melihat fakta diatas bahwa penduduk indonesia yang usia produktif masih kurang dalam mempunyai skil keahlian, keahlian yang didapat di sekolah maupun di lapangan. Karena adanya berbagai faktor misalnya : lingkungan, tenaga pengajar atau mungkin mempunyai cara belajar yang sendiri.
melihat kondisi itu kita butuh sebuah solusi untuk menghapadi hal tersebut, yakni dengan adanya penyediaan jasa pendidikan skill, bisa dari institusi pendidikan ataupun sukarelawan yang mempunyai skill dan peduli terhadap masa depan bangsa.
Menurut kutipan ridwan kamil dalam sebuah acara TedTalk Bandung, ada beberapa jenis orang, ada yang pintar dan suka membagi ilmunya, ada orang pintar yang pelit , dan ada orang kurang pintar dan pelit. Menurut data dari BPS pada tahun 2o15 jumlah mahasiswa aktif di indonesia sekitar 171.771. Dari situ sudah terlihat bahwa indonesia mempunyai banyak orang yang mempunyai pendidikan tinggi. Tapi apakah mereka mau membagikan ilmu kepada yang membutuhkan ? 

Bonus Demografi Indonesia tahun 2030

Melihat pertumbuhan penduduk indonesia yang naik setiap tahunnya dan tingginya angka kelahiran bayi berarti juga bertambahnya penduduk dengan usia produktif. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar di prediksikan pada tahun 2o3o  indonesia akan mempunyai penduduk dengan usia produktif yang melimpah, yakni antara usia 25-35 tahun.  

Mengutip dari lipi.go.id  “Walaupun data menunjukan 70% dari total jumlah penduduk kita adalah usia angkatan kerja, namun kualitasnya masih relatif rendah sehingga berdampak pada pasar tenaga kerja di Indonesia,” terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pudjiastuti, dalam seminar “Daya Saing Penduduk Menuju Ketahanan Bangsa” Kamis (10/3) di Jakarta. Indonesia saat ini menghadapi persoalan yang cukup pelik terkait kependudukan terutama rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di usia produktif. Menurut Nuke hal ini berbahaya karena era globalisasi memiliki tuntutan tinggi bagi tenaga kerja. Jika masyarakat usia angkatan kerja tidak mampu bersaing, maka sulit bagi mereka untuk mendapat pekerjaan. “Kehidupan perekonomian akan terganggu. Kemiskinan juga akan meningkat sejalan dengan rendahnya kualitas pendidikan usia angkatan kerja,” tegasnya.
Melihat fakta diatas bahwa penduduk indonesia yang usia produktif masih kurang dalam mempunyai skil keahlian, keahlian yang didapat di sekolah maupun di lapangan. Karena adanya berbagai faktor misalnya : lingkungan, tenaga pengajar atau mungkin mempunyai cara belajar yang sendiri.
melihat kondisi itu kita butuh sebuah solusi untuk menghapadi hal tersebut, yakni dengan adanya penyediaan jasa pendidikan skill, bisa dari institusi pendidikan ataupun sukarelawan yang mempunyai skill dan peduli terhadap masa depan bangsa.
Menurut kutipan ridwan kamil dalam sebuah acara TedTalk Bandung, ada beberapa jenis orang, ada yang pintar dan suka membagi ilmunya, ada orang pintar yang pelit , dan ada orang kurang pintar dan pelit. Menurut data dari BPS pada tahun 2o15 jumlah mahasiswa aktif di indonesia sekitar 171.771. Dari situ sudah terlihat bahwa indonesia mempunyai banyak orang yang mempunyai pendidikan tinggi. Tapi apakah mereka mau membagikan ilmu kepada yang membutuhkan ?