Mereka Yang Pertama Masuk Neraka

Mereka Yang Pertama Masuk Neraka

Bahayanya orang yang riya’, orang yang suka mengungkit-ngungkit pemberian, orang yang suka ujub dengan amalnya, perhatikan kata Allah subhanahu wa ta’ala perumpamaan dia seperti perumpamaan batu yang diatasnya ada pasir-pasir, kemudian batu tersebut dituruni oleh hujan, akhirnya pasir yang ada di atas batu tersebut hilang,habis, bersih, putih, bening, seperti tidak ada pasir sedikitpun.

Kata imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, riya’ itu adalah menampakkan ibadah supaya dilihat sama orang lain, apa tujuannya? agar dipuji, itu definisi dari riya’. Coba perhatikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ibni Khuzaimah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah keluar menemui para sahabatnya lalu beliau bersabda

“Hai manusia, jauhi kalian dari syirik-syirik rahasia, para sahabat bertanya, wahai Rasulullah apa itu syirik-syirik rahasia”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda

“Seseorang shalat, lalu dia memperbagus shalatnya gara-gara dilihat oleh seseorang”

Lihat hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam riwayat imam Ahmad dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahuanhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassallam bersabda

“Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang aku paling takutkan terhadap kalian, dibandingkan Al-Masih, Ad-Dajjal | Tentu wahai Rasulullah, apa itu? | syirik yang tersembunyi”

Yaitu maksudnya riya’. Dajjal kalau keluar itu sangat menipu manusia, orang mati dihidupkan, turun hujan (semua daerah yang dia lewati maka semua apa yang ada didalam bumi keluar), ini dia mendatangkan berkah menurut pandangan manusia. Fitnah, ujian yang paling besar adalah Dajjal, tetapi ada sesuatu yang lebih ditakuti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dibadingkan dajjal, ternyata riya’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata, Allah berfirman

“Aku Dzat yang sangat tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang beramal dan dia menysirik didalamnya (Riya’) maka Aku tinggalkan dia dan amalnya” (HR: Muslim, no. 2985 dan Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah)

Diakui nggak diakui, kita itu manusia yang suka pujian, ini yang menyebabkan kadang-kadang seseorang sulit untuk lepas dari riya’. Jangan pernah tertipu dengan pujian manusia, manusia cuma melihat dzahirnya saja.
Penyakit riya’ harus diobati karena dia adalah sifat orang munafik Al-Khullas, sifat orang munafik yang benar-benar murni kemunafikannya. Munafik yang bukan sekedar munafik amali. Munafiki i’tiqad munafik yang merupakan aqidah, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’:142)

Orang riya’, pasti amalnya tidak maksimal, tidak memperhatikan kualitas, pasti asal terlihat dan pasti terputus setelah tidak dilihat lagi oleh manusia. Orang yang istiqomah tanda ikhlas, yang tidak istiqomah tanda tidak ikhlas, pasti terputus, karena kenapa? karena tergantung penglihatan atau pujian manusia, kalau tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, putus amalnya. Dalam hadist riwayat imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata, Allah berfirman

“Ketika seluruh manusia diberikan pahala sesuai dengan amal ibadahnya karena mereka beramal karena Allah, maka orang-orang yang riya’ Allah berfirman kenapa mereka ‘Silahkan kalian pergi ke orang yang kalian riya’i, apakah kalian akan mendapatkan pahal dari mereka'”

Nabi mengatakan

“Yang pertama akan dihisab dan akan dilemparkan kedalam api Neraka ada 3 golongan, yang pertama orang yang mati dikancah jihad, lalu orang ini dihadapkan dihadapan Allah lalu Allah sebutkan nikmat-nikmatnya yang Allah berikan didunia, Allah sebutkan nikmat Allah, lalu apa yang dia katakan ‘aku berperang dijalan Mu sampai aku mati syahid. Apa kata Allah ‘kadzabta-Dusta..!! namun pandangan hakikatnya engkau berperang agar dikatakan pahlawan, dan gelar itu telah engkau dapatkan, lalu Allah panggil malaikatNya, lalu orang ini diseret dengan wajah yang ada dibawah sampai dilemparkan kedalam api neraka”

Lalu orang yang kedua, orang yang kedua ini mempelajari ilmu agama, lalu mengajarkannya dan membaca alquranul karim, lalu orang ini dihadapkan dihadapan Allah, lalu Allah jelaskan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada dia ‘untuk apa kau gunakan nikmat-nikmat tersebut?’ dengan bangganya orang ini mengatakan ‘aku mempelajari dan mengajarkan ilmu agama semata-mata untuk mencari ridhamu’ apa kata Allah? .. kadzabta.. dusta..!! bohong..!! namun sejatinya engkau mempelajari dan mengajarkan ilmu agama agar dikatan alim ulama, ustadz, tuan guru dan engkau membaca alquran agar dikatakan qori, dan gelar itu telah engkau dapatkan di dunia‘, Allah kembali memanggil malaikatNya untuk menyeret orang ini sampai dia hempaskan dan dilemparkan kedalam neraka.
Dan yang ketiga adalah seseorang yang diberikan harta oleh Allah dan orang ini mengatakan dengan bangganya ‘aku tidak pernah meninggalkan satu jalan kebaikan pun yang Engkau ridhai yang Engkau cintai kecuali aku dermakan hartaku disana’ tidak ada satupun fakir miskin yang mengetuk pintu rumahnya kecuali ia berikan infaq dan sedekah, tidak ada satupun proposal yang mampir kemejanya kecuali ia bantu acara tersebut tidak ada satupun anak yatim yang mengharapkan uluran tangan kecuali dia menjadi orang tua asuh, semua jalan kebaikan itu uangnya ada disana, lalu apa kata Allah..‘kadzabta.. dusta!! namun sejatinya engkau melakukan hal tersebut agar dikatakan dermawan dan gelar itu telah engkau dapatkan.’ akhirnya Allah perintahkan kembali malaikatNya untuk melemparkan dia kedalam siksa api neraka. Ini pelajaran menarik dari hadist tentang riya’, ini sebab kenapa kita harus mengobati penyakit riya’, maka pantas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam senantiasa berdoa meminta amalan muttaqobbala-amalan yang diterima- kira-kira nih amalan kita diterima nggak?

Mereka Yang Pertama Masuk Neraka

Mereka Yang Pertama Masuk Neraka

Bahayanya orang yang riya’, orang yang suka mengungkit-ngungkit pemberian, orang yang suka ujub dengan amalnya, perhatikan kata Allah subhanahu wa ta’ala perumpamaan dia seperti perumpamaan batu yang diatasnya ada pasir-pasir, kemudian batu tersebut dituruni oleh hujan, akhirnya pasir yang ada di atas batu tersebut hilang,habis, bersih, putih, bening, seperti tidak ada pasir sedikitpun.

Kata imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, riya’ itu adalah menampakkan ibadah supaya dilihat sama orang lain, apa tujuannya? agar dipuji, itu definisi dari riya’. Coba perhatikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ibni Khuzaimah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah keluar menemui para sahabatnya lalu beliau bersabda

“Hai manusia, jauhi kalian dari syirik-syirik rahasia, para sahabat bertanya, wahai Rasulullah apa itu syirik-syirik rahasia”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda

“Seseorang shalat, lalu dia memperbagus shalatnya gara-gara dilihat oleh seseorang”

Lihat hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam riwayat imam Ahmad dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahuanhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassallam bersabda

“Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang aku paling takutkan terhadap kalian, dibandingkan Al-Masih, Ad-Dajjal | Tentu wahai Rasulullah, apa itu? | syirik yang tersembunyi”

Yaitu maksudnya riya’. Dajjal kalau keluar itu sangat menipu manusia, orang mati dihidupkan, turun hujan (semua daerah yang dia lewati maka semua apa yang ada didalam bumi keluar), ini dia mendatangkan berkah menurut pandangan manusia. Fitnah, ujian yang paling besar adalah Dajjal, tetapi ada sesuatu yang lebih ditakuti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dibadingkan dajjal, ternyata riya’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata, Allah berfirman

“Aku Dzat yang sangat tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang beramal dan dia menysirik didalamnya (Riya’) maka Aku tinggalkan dia dan amalnya” (HR: Muslim, no. 2985 dan Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah)

Diakui nggak diakui, kita itu manusia yang suka pujian, ini yang menyebabkan kadang-kadang seseorang sulit untuk lepas dari riya’. Jangan pernah tertipu dengan pujian manusia, manusia cuma melihat dzahirnya saja.
Penyakit riya’ harus diobati karena dia adalah sifat orang munafik Al-Khullas, sifat orang munafik yang benar-benar murni kemunafikannya. Munafik yang bukan sekedar munafik amali. Munafiki i’tiqad munafik yang merupakan aqidah, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’:142)

Orang riya’, pasti amalnya tidak maksimal, tidak memperhatikan kualitas, pasti asal terlihat dan pasti terputus setelah tidak dilihat lagi oleh manusia. Orang yang istiqomah tanda ikhlas, yang tidak istiqomah tanda tidak ikhlas, pasti terputus, karena kenapa? karena tergantung penglihatan atau pujian manusia, kalau tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, putus amalnya. Dalam hadist riwayat imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata, Allah berfirman

“Ketika seluruh manusia diberikan pahala sesuai dengan amal ibadahnya karena mereka beramal karena Allah, maka orang-orang yang riya’ Allah berfirman kenapa mereka ‘Silahkan kalian pergi ke orang yang kalian riya’i, apakah kalian akan mendapatkan pahal dari mereka'”

Nabi mengatakan

“Yang pertama akan dihisab dan akan dilemparkan kedalam api Neraka ada 3 golongan, yang pertama orang yang mati dikancah jihad, lalu orang ini dihadapkan dihadapan Allah lalu Allah sebutkan nikmat-nikmatnya yang Allah berikan didunia, Allah sebutkan nikmat Allah, lalu apa yang dia katakan ‘aku berperang dijalan Mu sampai aku mati syahid. Apa kata Allah ‘kadzabta-Dusta..!! namun pandangan hakikatnya engkau berperang agar dikatakan pahlawan, dan gelar itu telah engkau dapatkan, lalu Allah panggil malaikatNya, lalu orang ini diseret dengan wajah yang ada dibawah sampai dilemparkan kedalam api neraka”

Lalu orang yang kedua, orang yang kedua ini mempelajari ilmu agama, lalu mengajarkannya dan membaca alquranul karim, lalu orang ini dihadapkan dihadapan Allah, lalu Allah jelaskan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada dia ‘untuk apa kau gunakan nikmat-nikmat tersebut?’ dengan bangganya orang ini mengatakan ‘aku mempelajari dan mengajarkan ilmu agama semata-mata untuk mencari ridhamu’ apa kata Allah? .. kadzabta.. dusta..!! bohong..!! namun sejatinya engkau mempelajari dan mengajarkan ilmu agama agar dikatan alim ulama, ustadz, tuan guru dan engkau membaca alquran agar dikatakan qori, dan gelar itu telah engkau dapatkan di dunia‘, Allah kembali memanggil malaikatNya untuk menyeret orang ini sampai dia hempaskan dan dilemparkan kedalam neraka.
Dan yang ketiga adalah seseorang yang diberikan harta oleh Allah dan orang ini mengatakan dengan bangganya ‘aku tidak pernah meninggalkan satu jalan kebaikan pun yang Engkau ridhai yang Engkau cintai kecuali aku dermakan hartaku disana’ tidak ada satupun fakir miskin yang mengetuk pintu rumahnya kecuali ia berikan infaq dan sedekah, tidak ada satupun proposal yang mampir kemejanya kecuali ia bantu acara tersebut tidak ada satupun anak yatim yang mengharapkan uluran tangan kecuali dia menjadi orang tua asuh, semua jalan kebaikan itu uangnya ada disana, lalu apa kata Allah..‘kadzabta.. dusta!! namun sejatinya engkau melakukan hal tersebut agar dikatakan dermawan dan gelar itu telah engkau dapatkan.’ akhirnya Allah perintahkan kembali malaikatNya untuk melemparkan dia kedalam siksa api neraka. Ini pelajaran menarik dari hadist tentang riya’, ini sebab kenapa kita harus mengobati penyakit riya’, maka pantas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam senantiasa berdoa meminta amalan muttaqobbala-amalan yang diterima- kira-kira nih amalan kita diterima nggak?

Rezeki yang Berkah

Perlu kita camkan, masalah nafkah bukan masalah banting ngebanting tulang. Masalah nafkah adalah masalah takwa
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari segala arah yang tidak diduga-duga” (QS. Ath-Thalaq:2-3).

Nabi bersabda dalam hadits Tirmidzi

“Kalau kalian benar-benar tawakal dengan tawakal yang sebenar-benarnya, maka Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada seekor burung. Burung keluar dipagi hari dalam kondisi perut lapar, dan pulang disore hari”

Lihat, nabi katakan burung pulangnya sore, bukan jam 12 malam. Ada burung pulang jam 12 malam? | enggak, burung pulang sore dan kenyang dan bawa rezeki buat anak-anaknya. Keberkahan!
Ini bukan kuantitas berapa lama kita bekerja tapi kualitas iman dan takwa kita dan ikhtiar yang maksimal. Ikhtiar yang maksimal bukan bekerja sampai jam 11 malam, sampai jam 2 malam, lalu week end kita pake untuk nambah-nambah mencari sampingan sehingga kita lupa ngaji, kita lupa belajar, kita lupa ibadah, ini nggak berkah! Ingat, burung bisa enjoy menikmati kehidupannya pulang sore, makanya hadistnya “pulang sore dalam kondisi tenang, kenyang dan bisa kasih buat anak-anak” berkah soalnya, karena taqwa, karea ikhtiar, karena burung nggak maksiat, karea burung nggak nipu orang, karena burung berdzikir kepada Allah. Setiap binatang berdzikir atau nggak kepada Allah? berdzikir, kita lupa dzikir, lupa ngaji, akhirnya kita diperbudak oleh dunia.
Allah kasih kita 168 jam/pekan, masa nggak punya waktu 2 jam untuk belajar agama! sesibuk itukah kita? 168 jam/pekan, 2 jam aja nggak punya waktu? Wooh sibuk banget kita, nabi aja kalah sibuk sama kita misalnya. Nabi (rasul) itu umatnya banyak, lalu kepala negara, lalu pemegang kunci baitul mall, menteri keuangan, lalu yang berikutnya panglima perang, kalau bahasa kita panglima TNI, itu masih sempat belajar dengan malaikat Jibril. Kita Presiden bukan, menteri bukan, Panglima TNI bukan, nggak sempat belajar.., Subhanallah.. Ini nyari apa sih dalam hidup. Nabi istrinya 9, kita istri satu, bahkan banyak yang jomblo.. nggak ngaji-ngaji, jadi ini gimana sih? Ini sudah diperbudak dunia, ini ada yang salah dalam hidup kita, nggak bisa demikian, Dan semakin diperbudak dunia, semakin sengsara, makanya para ulama dulu itu cari nafkahnya setiap hari hanya 2 jam, bisa eksis, Syaih Albani itu kan tukang jam, dan beliau nggak kerja setiap hari, dan kalaupun kerja paling hanya 2-3 jam selesai, tutup toko baca, belajar dan seterusnya. Keberkahan ini yang hilang. Maka yakinlah, kita harus kembali kepada bagaimana mengatur waktu sesuai dengan Alquran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam

Jangan Katakan Nanti

Jangan Katakan Nanti – Ust. Abu Yahya Badru Salam, Lc.
Kita ketika beramal, ada saja yang membuat kita it u berhenti dari beramal, apa itu?, banyak perkara, diantaranya adalah seorang tertipu oleh angan-angan “ah gampang, nanti, besok, saya bisa lakukan itu. Ah gampang lusa saya masih kosong kok waktunya, ah gampang nanti malem saya punya waktu In Syaa Allah” sehingga akhirnya, menggampangkan seperti ini, menyebabkan kita selalu menunda-nunda perbuatan.

Ketika kita ada waktu di waktu pagi kita berkata..”ah nanti deh baca quran nya, sore masih ada waktu misalnya” ketika kita menuntut ilmu, setan datang mungkin kepada kita “ah gampang, saya masih ada waktu kok untuk menuntut ilmu”. Maka ini sebuah penyakit yang banyak sekali menghentikan seorang beramal untuk segera beramal. Seorang penuntut ilmu itu tidak ada di kamusnya kata nanti untuk beramal. Ada waktu, lakukan! Ada waktu, gunakan! makanya Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu ardah ketika membawakan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wassallam

“Jadilah didunia, seakan-akan kamu orang yang asing atau penyeberang jalan” kata beliau apa “Kalau kamu berada diwaktu pagi, jangan tunggu-tunggu waktu sore, dan kalau kamu berada diwaktu sore jangan tunggu-tunggu waktu pagi, ambil waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan ambil waktu hidupmu sebelum kami mati. Subhanallah, cobalah kita berfikir, ketika kita mengatakan nanti, sampai kapan nanti?!!. Kita yakin ajal datangnya nanti? kita tidak tau. Makanya seorang penuntut ilmu itu ketika kata nanti itu sudah ada di pikirannaya segera berkata “ah sudahlah, sekarang saya ada kesempatan saya lakukan”. Hasan Al-Basri juga berkata begini “Jauhi oleh kamu menunda-nunda (nanti-nanti-nanti) karena kamu sedang berada dihari ini bukan di hari esok” jika kamu bisa melakukan itu, ketika kita bisa melakukan pada waktunya, ada waktu kesempatan, ambil! Maka kata beliau apa, Jika esok masih menjelang, kamu masih bisa seperti hari ini, dan apabila esok tidak menjelang lagi alias ajal mendatangi kita, kita pun tidak akan menyesal.

Kata-kata nanti.. nanti… ini perkara yang dalam syariat islam saja, dalam alquran dan hadits sangat tidak sepadan, Allah mengatakan

Bersegeralah pada ampunan Rabb mu

Allah mengatakan bersegeralah. Kalau seseorang mengatakan “nanti”, kira-kira dia bersegera tidak? jawabnya tidak Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan “berlomba-lombalah” sementara orang yang mengatakan nanti, tidak berlomba-lomba. Para ulama usul fiqih mengatakan bahwa perintah itu harus dilakukan sesegera mungkin, tidak boleh di tunda-tunda. Maka demikian pula, seorang penuntut ilmu jangan menunda-nunda waktu. Kalau ada kesempatan, ambil. Ini in syaa Allah kunci kesuksesna kita dan ini yang menjadikan kita jauh dari kemalasan.
..
Oleh karena itulah ya akhi, ketika kita menuntut ilmu ketika kita beramal shaleh, ketika kita hendak melakukan berbagai macam kebaikan dan kebaikan, yang kita jaga adalah bagaimana saya bisa melakukan itu diwaktu-waktu yang memang itu.. pertama di tugas waktunya, yang kedua saya bisa melakukannya sesegera mungkin.
Ada orang berhaji, sudah punya uang berhaji, banyak uangnya masya Allah, lalu dia berkata..”ah gampang, nanti saya haji tahun depan aja. Ah gampang nanti saya hajinya umur 40 tahun aja” ya ternyata qadarullah setahun kemudian usahanya bangkrut, akhirnya dia tidak bisa berhaji,bagaimana? Ada orang yang ada kesempatan untuk membaca alquran dan mengatakan nanti sore saya membaca alquran, eh sorenya dia sakit, akhirnya dia tidak bisa membaca alquran, bagaimana? merugi! wallahi sangat merugi, makanya renungkan ini baik-baik, siapa saja kita, baik itu seorang ustadz, atau bapak-bapak, atau bahkan kita semua penuntut ilmu Allah subhanahu wata’ala, siapa pun kita yang ingin mencari kehidupan akhirat dan beramal shaleh, jauhi yang namanya kata nanti!, nggak ada kata nanti!, ada kesempatan hari ini! kecuali kalau memang ditundanya karena ada maslahat yang lebih besar, kita tunda itu karena ada udzur yang syar’i, adapun kita membiasakan diri menunda-nunda-nunda-nunda itu tanda kemalasan akhi, seorang mukmin tidak demikian, makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda

“Bersungguh-sungguhlah untuk menghasilkan apa yang bermanfaat buat kamu, semangatlah” kata Rasulullahu ‘alaihi wassallam. Orang yang mengatakan nanti-nanti-nanti itu menunjukkan dia tidak Bersungguh-sungguh ya akhi, itu menunjukkan dia tidak ada kesemangatan kebaikan demi kebaikan, namun terkadang anehnya dalam masalah yang sifatnya itu tidak ada manfaatnya seringkali kita tidak mengatakan nanti, ada film rame.. waah untuk mengatakan nanti berat rasanya, ada sesuatu yang sesuai dengan syahwat, terkadang untuk mengatakan nanti berat rasanya. La hawla quwwata ila billah, maka, kita sebagai orang yang beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat mar kita berlomba-lomba, mari kita bersungguh-sungguh, semoga ini akan memberikan motivasi kedalam kehidupan kita.

Wabillahi taufiq, subhakallahiwabihamdih, asyhadualla ila ha illa anta, astagfiruka waatubu ilaih, wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh.

Kedudukan Para Sahabat

Ceramah Singkat: Kedudukan Para Sahabat – Syaikh Marzuk bin Khalid Al-Azmi.
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahirrahmaanirrahim, shalawat serta salam teruntuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam, beserta keluarga dan sahabat beliau semua.

 Saudaraku. Betapa urgennya posisi para sahabat dalam agama ini. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى ta’ala menyebutkan pada kita banyak ayat, yang menjelaskan pada kita pentingnya kedudukan para sahabat, diantaranya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى: 

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin” Dan tidak ada orang-orang mukmin ketika alquran turun selain para sahabat, maka para sahabat merekalah yang disebut sebagai orang-orang mukmin waktu itu. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى :


وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. QS. An-Nisa;115

Alhasil, yang melenceng dari jalannya para sahabat, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى ancam mereka dengan neraka. Para sahabat juga telah disebut oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dalam taurat dan Injil, diantara keutamaan mereka adalah ; Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memuji mereka dalam Taurat dan Injil sebelum mereka diciptakan, bahkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan dan diutus kepada manusia. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad itu utusan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka sujud dan ruku’ mencari karunia Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka (yang bersahaya) karena sujud” Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperi tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى hendak mengjengkelakan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin), Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.[QS. Al-Fath:29].

Pada ayat ini, sebagian ulama, seperti Imam Malik, berdalil bahwasanya; siapa yang membenci para sahabat dan jengkel pada mereka, maka dia adalah orang kafir, berdasarkan firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى (dalam ayat tersebut), yaitu “… Karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى hendak mengjengkelkan hati orang-orang kafir” Maka barangsiapa yang membenci dan jengkel dengan sahabat Nabi, maka dia adalah orang kafir. Dan diantara pokok-pokok aqidah ahlussunnah wal jamaa’ah adalah; tidak ada rasa hasad di hati mereka terkait para sahabat Nabi. Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى ta’ala;


وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah, dan telah beriman (Anshor) sebelum kedatangan mereka (mujahirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka kesusahan. Dan siapa yang diperlihari dari kikir dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”[QS. Al-Hasyr:9]

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman: Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [QS. Al-Hasyr:10].

Diantara pokok-pokok aqidah ahlussunnah wal jamaa’ah yang mereka sepakati; sebagaimana kesempatan (ijma’) tersebut dinukil oleh Abu Zuri’ah ar-Raazi dan Abu Haatim ar-Raazi rahimahumullah dalam kitab aqidah mereka; Bahwasanya mereke (ahlussunnah) tidak ada hasad dan dengki di hati mereka terhadap para sahabat. Juga diantara pokok aqidah mereka adalah; Hati mereka wajib terselamatkan dari membenci para sahabat Nabi (Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى meridhai mereka). Saya memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى agar manganugerahkan pada kita untuk mengikuti jalan mereka, dan mengambil petunjuk dari petunjuk mereka, Sungguh Dia adalah penolong untuk mewujudkannya dan Maha berkuasa atasnya. Salawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam, keluarga beliau dan seluruh sahabat.

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semangat Mengikuti Kebenaran (Sunnah Nabi)

Semangat Mengikuti Kebenaran (Sunnah Nabi) – Ustadz Abdullah Taslim

Semangat mengiktuti sunnah nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah suatu perbuatan yang terpuji melambangkan keimanan yang yang benar yang ada dalam hati seorang muslim. Semangat mengikuti sunnah nabi shalallahu alaihi wasallam yang jelas-jelas dipuji kebaikannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmannya laqad ka lanakum fi Rasulillahi uswatun hasanah
“Sungguh telah ada suri tauladan yang baik untuk kalian wahai orang-orang yang beriman pada diri Rasulillahi shalallahu alaihi wasallam yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan balasan kebaikan di hari akhir”
Ayat ini menggambarkan kepada kita bahwa, pertama mengikuti sunnah nabi shalallahu alaihi wasallam jelas dipuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena perbuatan, ucapan, dan perilaku beliau disifati sebagai uswatun hasanah sebagai suri tauladan yang baik yang berarti orang yang mengikutinya dia akan selalu mendapatkan kebaikan untuk dirinya, mengusahakan kemuliaan untuk dirinya dengan berbagai macam balasan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta’ala kemudian, faedah berikutnya mengikuti sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam ayat ini digandengkan dengan keimanan, sehingga Allah berfirman
“Bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan balasan kebaikan di hari kemudian (yang ini mengandung pengertian semangat mengikuti sunnah adalah berhubungan dengan kesempurnaan dalam hati manusia terhadap pengharapan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala)”
Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman Assadi dalam Kitab Taisir karimi Rahman ketika menafsirkan ayat ini beliau mengatakan
“Suri tauladan yang baik dari petunjuk nabi shalallahu alaihi wasallam hanya akan ditempuh dan hanya akan diberi taufik untuk mengikutinya yaitu orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan balasan kebaikan di hari kemudian, karena keimanan yang dimilikinya, pengharapannya terhadap pahala dari Allah, dan ketakutannya terhadap azab-Nya inilah yang memitivasi dirinya untuk semangat petunjuk dan sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam”
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memilih kita dengan taufiknya, termasuk kedalam golongan orang-orang yang semangat mengikuti mencintai dan membela sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam kehidupan kita, brakallahu fikum jami’an

Ceramah Singkat Menjadi Teman Dekat Rasulullah – Ustadz Zainal Abidin, Lc.

Ceramah Singkat  Menjadi Teman Dekat Rasulullah – Ustadz Zainal Abidin, Lc.
Assalamualaikum wr wb

Saudara-saudariku seiman kaum muslimin yang dirahmati Allah, semua orang berkeinginan untuk  masuk surga, dan semua umat Muhammad berharap ingin menjadi orang paling dekatnya Rasulullahu shalallahu ‘alaihi wasallam di surga, dan ternyata jalan menuju kesana tidak sulit, bahkan Rasulullahu shalallahu alaihi wasallam memberikan syarat mudah bagi orang yang ingin dekat dengan Rasulullahu shalallahu alaihi wasallam di surga.

Diantara kriterianya Rasulullahu shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan suatu cara diantara sekian cara lewat kitabullah

“Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasulnya maka orang-orang tersebut akan diberikan nikmat oleh Allah bersama orang-orang yang diberi kenikmatan dari kalangan  para nabi, siddiqin, syuhada, dan as shalihin.. ” subhanallah

dan ketataatan tersebut bisa bermacam-macam, ada yang besar, ada yang sedang ada yang kecil dan semua masuk, insya Allah, siapa saja yang ingin dekat dengan Rasulullahu shalallahu alaihi wasallam, taatilah Allah dan Rasul-Nya.

Selanjutnya, orang-orang dekat Rasulullahu shalallahu alaihi wasallam di surga tidak bisa ambil kesimpulan hadits Rasulullahu shalallahu alaihi wasallam ketika badui datang ke Rasulullah menanyakan

“Wahai Rasulullah kapan kiamat”, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawabnya “apa yang kamu siapkan untuk itu?” dia menjawab, cinta Allah dan cinta Rasul. Apa balasan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.. sangat ringan “engkau akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kamu cintai” hanya dengan kita mencintai Allah, mencintai Rasul dengan tulus, dari lubuk hati sebagai konsekuensi keimanan kita, kita akan dikumpulkan, akan dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disurga, kemudian yang ketiganya yang termasuk orang-orang dekat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di surga

Pernah ada seorang sahabat namanya  Rabi’ah bin Kaab .. datang Rasulullah, kemudian mau pulang Rasulnya shalallahu alaihi wasallam berikan pilihan untuk suatu hadiah, ternyata dia menolak

“Saya hanya minta satu saja ya Rasulullah, dimana aku ingin menjadi orang yang paling dekat nantinya denganmu disurga”, Rasulullah mencoba untuk mengalihkan “apa nggak ada yang lain wahai rabiah” | “nggak, itu aja wahai Rasulullah” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab “bantu aku untuk merealisasikan itu dengan memperbanyak sujud”

yaitu shalat mutlaq, dua salam-dua salam-dua salam-dua-dua salam, kapan saja, selain diwaktu pas matahari terbit, pas matahari terbenam, pas matahari ditengah dan setelah subuh, setelah ashar insya Allah dengan itu kita akan menjadi teman dekat Rasulullahsh alaihi wasallam di surga.

Selanjutnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga memberikan cara yang paling mudah untuk kita menjadi orang dekatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disurga (apa itu?), hadist Rasulullah shalallahu wasallam di dalam shahih muslim, beliau mengatakan

“Siapa yang merawat baik-baik dua anak perempuan sampai baligh, nanti dihari kiamat bersamaku seperti dua jari ini (Rasulullah menghimpunnya (Dua jari beliau;Jari telunjuk dan tengah) bahkan sangat dekat sekali)”

dua anak perempuan, tiga anak perempuan apalagi empat, lima sabar, tegar, mendidik adil Allah akan berikan suatu kelebihan ;kumpul bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam nanti di surga.

Selanjutnya juga termasuk hal yang mudah bagi orang-orang yang ingin dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disurga -(apa itu?)- Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan

“Saya bersama orang yang menjamin anak yatim, seperti ini (beliau menghimpun dua jarijemari beliau) di surga”

Siapa yang ingin dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yaitu washilah (tertunggi) maka santunilah anak yatim piatu sekolahkan dia berikan kesempatan-kesempatan untuk merangkai kehidupan dia semakin baik nasibnya, berdayakan potensi dirinya, insya Allah dengan cara itu kita akan menjadi orang-orang dekat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disurga.

Demikianlah, mudah-mudahan bermanfaat

Penghapus Pahala

Ceramah Singkat: Penghapus Pahala – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Sebagian orang ada yang lebih takut dihadapan manusia dibandingkan dihadapan Allah, sebagian manusia tatkala dihadapan orang banyak dia pakai pecinya dia pakai jenggotnya, dia mungkin berpakaian pakaian ahli ibadah dan seperti orang shaleh, tapi tatkala sendirian dia bagaikan melepas pecinya, bagaikan melepas jenggotnya, semua atribut-atribut ibadah dan keshalihan dia lepaskan, dia lebih takut dihadapan manusia dibandingkan dihadapan Allah. tatkala sendirian ataupun tatkala ada kesempatan untuk melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dia lakukan itu.
Para pemirsa yang dirahmati oleh Allah swt., ketahuilah baik-baik, bahwa tingkatan keimanan yang paling tinggi adalah al-ikhsan, Rasul shalallahu ‘alaihi wassallam mengenangkan kepada kita al-ikhsan adalah
Anta‘budallah ka annaka taraah, fa’illam takun taraah, fa’innahu yaraak
“Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihatnya, jika kamu tidak melihat Allah sesungguhnya Allah melihatmu”
Kenapa Ikhsan merupakan tingkatan ibadah yang paling tinggi, karena senantiasa merasa selalu diawasi oleh Allah swt., dan disinilah sebagian orang kadang-kadang tatkala sendirian atau tatkala punya kesempatan dihadapan laptopnya, komputernya, ia membuka hal-hal yang diharamkan oleh Allah, baik mendengar hal-hal yang diharamkan seperti musik, ataupun melihat hal-hal yang diharamkan seperti perempuan-perempuan yang membuka auratnya,ataupun acara-acara yang lebih condong kepada dosa.
Maka ketahuilah bahwasanya, Rasul shalallahu ‘alaihi wassallam telah menyebutkan maksiat tatakala sendirian itu adalah penghapus pahala, ingat baik-baik, maksiat secara sendirian itu adalah penghapus pahala. Dalam hadits riwayat imam ibnu majah dari tsawban radhiallahu anhu, Rasul shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda
“Sungguh aku akan benar-benar memberitahukan orang dari umatku yang ditang di hari kiamat dengan bergunung-gunung pahala qiyaamah yang besar -(Gunung tiyamah terkenal besarnya)- lalu pahala bergunung-gunung tersebut dijadikan debu-debu yang berterbangan”
Taukah Anda arti haba? haba adalah tatkala ada sinar matahari kemudian pada saat itu ada benda-benda kecil yang berterbangan, itulah haba, tidak ada nilainya, tidak ada beratnya sama sekali.
para pemirsa yang dirahmati oleh Allah, kiranya kenapa seoraang yang bermaksiat tatkala sendirian, dihapuskan pahalanya dan bagaikan debu yang berterbangan tidak berharga, maka salah satu jawabannya adalah dia telah begitu lancang, untuk bermaksiat dihadapan Allah. tatkala dihadapan manusia dia memakai jenggot, dia memakai peci, dia memakai atribut-atribut keshalihan, seakan-akan dia orang shaleh, tapi tatakala dia sendirian tidak ada yang melihat kecuali Allah, padahal Allah berfirman didalam surat Al-Baqarah ayat 77

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُون

“Apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dan apa yang mereka nampakkan”
Dalam surat Al-Alaq 14 Allah swt berfirman

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ الَّهَ يَرَىٰ

“Apakah dia tidak mengetahui bahwasanya Allah Maha Melihat”
Melihat dia, sedang melihat dia, dan selalu mengawasi dia, di dalam surat al-ahzab ayat 52 Allah swt. berfirman

وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا


“Dan Allah mengintai segala sesuatu”
Dalam surat ghafir ayat 19,Allah swt. berfirman

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Allah mengetahui mata-mata yang berkhianat”

Mata yang apabila dilihat oleh manusia dia terlihat menundukkan pandangan, dia seakan benar-benar shaleh,takut kepada Allah, akan tetapi dihadapan hanya Allah swt, dia benar-benar meluaskan pandangannya pada yang diharamkan
“Dan Allah mengetahui apa yang tersembunyi didalam hati”
Tatkala diharamkan Allah, zat yang seperti itu, dia malah lancang, sangat berani bermaksiat dihadapan Allah, ini yang membuat amalannya terhapus, Allah berfirman dalam surat An-Nisa’
“Mereka takut kepada manusia tapi tidak takut kepada Allah”
ini juga makna dari perkataan ulama salaf
“Jangan jadikan Allah zat yang paling rendah melihatmu”
Tatkala dilihat manusia.. takut, tatkala dipengajian seakan-akan dia orang yang paling menjaga pandangan, pendengaran, kemaluan dan seluruh anngota tubuh, tapi tatkala sendirian semua dilibas, semua dilihat, semua didengar, bahkan kadang-kadang yang berbau porno pun dia lihat, naudzubillah.. semoga kita lebih takut kepada dzat ‘attsami, al-basir, al alim dibandingkan takutnya kita kepada manusia yang pandangannya terbatas, pengetahuannya terbatas, pendengarannya terbatas, dan tidak pantas kita takut kecuali hanya kepada Allah swt, janganlah bermaksiat tatkala sendirian karena ia penghapus pahala.
Wassallamualaikum warah matullah wabarakatuh