Bangun Malam untuk Shalat malam dan witir – Part 2

Lanjutan dari Bangun Malam untuk Shalat malam dan witir – Part 1

D. Disunahkan untuk membaca doa istiftah yang dianjurkan dalam shalat malam

Diantaranya :

  1. Doa yang disebutkan dalam shahih muslim dari hadits Aisyah  راضي آنه dia berkat “Apabila Nabi melaksanakan shalat malam, beliau membuka shalatnya (dengan membaca doa)” :اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki [HR Muslim (770)]

  2. اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

    Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau[HR. Bukhari 2/3, 2/4, 11/99, 13/366 – 367, 13/399, Muslim 2/184]

E. Disunahkan untuk memperlama waktu berdiri, rukuk dan sujud, sehingga seluruh rukun-rukun shalat yang berupa perbuatan waktunya hampir sama

F. Dalam bacaan shalat, disunahkan untuk melaksanakan sunah-sunah yang disyariatkan. Di antaranya :

  1. Membaca dengan perlahan-lahan. Maksudnya, tidak membaca dengan cepat dan tergesa-gesa
  2. Memberi jeda dalam bacaannya satu ayat satu ayat. Maksudnya, tidak menyambungkan dua ayat atau tiga ayat tanpa waqaf (berhenti). Akan tetapi berhenti pada setiap ayat
  3. Apabila membaca ayat tasbih, maka bertasbihlah. Apabila membaca ayat yang mengandung perhomohonan doa maka memohonlah. Dan apabila membaca ayat perlindungan maka mintalah perlindungan

Dalil dari hal-hal tersebut adalah

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ

Dari Hudzaifah راضي الله عنه berkata: “Saya pernah melaksanakan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pada suatu malam. Beliau membaca surat Al-Baqarah. Dalam hati saya mengatakan beliau akan ruku’ pada ayat keseratus. Namun ternyata beliau melanjutkan bacaannya. Dalam hati saya berkata beliau akan menyelesaikan satu surat Al-Baqarah dalam satu raka’at dan kemudian ruku’. Namun ternyata beliau melanjutkan bacaannya dengan membaca surat An-Nisa’ sampai selesai, kemudian beliau membaca surat Ali Imran sampai selesai. Beliau membacanya dengan tartil dan pelan-pelan. Jika melewati ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih. Jika melewati ayat yang mengadung permintaan, beliau pun meminta kepada Allah. Dan jika melewati ayat yang mengandung perlindungan, maka beliau pun meminta perlindungan kepada Allah. Beliau kemudian ruku…” [HR. Muslim (772), An-Nasai (1664) dan Abu Daud (874)]

Juga berdasarkan riwayat Ahmad رحمة الله di dalam kitab Musnad-nya dari hadits Ummu Salamah راضي آنه : Bahwasanya dia pernah ditanya mengenai bacaan Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم maka dia menjawab, “Beliau memutus-mutus bacaannya ayat demi ayat, (Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Ar-Rahmanir Rahim. Maliki Yaumid Din) [HR Ahmad (26583), dan Ad-Daruquthni (118)]

Ibnul Qayyim رحمة الله mengatakan “Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم  memutus-mutus bacaannya dan berhenti pada setiap ayat… Beliau membaca surat dengan tartil sehingga surat itu menjadi lebih panjang dari yang paling panjang sekalipun. Beliau terkadang shalat dengan membaca satu ayat dan terus mengulangnya-ulangnya sampai pagi”  [Zadul Ma’ad (1/337)]

G. Disunahkan untuk salam pada setiap dua rakaat

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar راضي الله عنه bahwasanya dia berkata “Seorang laki-laki berdiri dan berkata ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah tata cara shalat malam ?’ Beliau menjawab ‘Shalat malam dua rakaat dua rakaat. Jika kamu khawatir akan segera masuk waktu subuh, maka witirlah satu rakaat’” [HR Al-Bukhari (990), Muslim (749)

H. Disunahkan membaca surat-surat tertentu pada tiga rakaat terakhir

  1. Pada rakaat pertama membaca surah Al-A’la سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
  2. Pada rakaat kedua membaca surah Al-Kafirun قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
  3. dan Pada rakaat ketiga membaca surah Al-Iklash  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Dalilnya adalah hadits Ubay bin Ka;ab راضي الله عنه dia berkata “Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم melaksanakan shalat witir dengan membaca ‘Sabbihisma Rabbikal A’la dan Qul Ya Ayyuhal Kafirun, serta Qul Huwallahu Ahad” [HR Abu Dawud(1423), An-Nasa’i (1733), Ibnu Majah(1181)]

 

Bangun Malam untuk Shalat malam dan witir – Part 1

Didalamnya terdapat beberapa amalan yang merupakan petunjuk Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم :

A. Disunahkan untuk melaksanakan shalat malam pada waktu yang paling utama

Kapankah waktu yang paling utama untuk shalat malam ? Waktu untuk shalat witir dimulai setelah shalat isya sampai terbit fajar.

Dalilnya adalah

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah راضي آنه , dia berkata “Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم shalat di antara waktu setelah shalat isya hingga waktu fajar sebanyak sebelas rakaat, beliau salam seitap dua rakaat dan melakukan shalat witir satu rakaat [HR Al-Bukhari (2031, Muslim (736)]
  2. Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah راضي آنه dia berkata “Setiap malam Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم shalat witir pada awal malam, pertengahan malam, dan akhir malam. Shalat witirnya berakhir hingga tba waktu sahur” [HR Al-Bukhari (996), Muslim (745)

Ibnu Al-mundzir رحمة الله mengatakan “Para ulama sepakat bahwa di antara shalat isya sampai terbit fajar adalah waktu untuk shalat witir” [Al-Ijma, hal 45]

Adapun mengenai waktu yang paling utama untuk shalat malam adalah sepertiga malam setelah pertengahan malam. Jadi, waktu malam dibagi menjadi dua bagian, dia shalat pada sepertiga dari pertengahan malam yang kedua, lalu tidur pada akhir malam. Yakni dia bangun pada seperenam keempat dan kelima, lalu tidur pada seperenam keenam.
Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Amr راضي الله عنه , dia berkata “Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم bersabda :

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya.” [HR Al-Bukhari (3420), Muslim (1159)]

Keutaman waktu malam itu ada tiga tingkatan :

  1. Tingkatan pertama : Tidur pada pertengahan malam pertama, kemudian bangun pada sepertiga malam, kemudian tidur lagi pada seperenam malam.
    Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Amr راضي الله عنه yang diatas
  2. Tingaktan kedua :Bangun pada sepertiga malam terakhir
    Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah راضي الله عنه , bahwa Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم bersabda :
    نزل ربنا تبارك وتعالى إلى السماء الدنيا كل ليلة حين يبقى ثلث الليل الآخر فيقول: من يدعوني فأستجيب له، من يسألني فأعطيه، من يستغفرني فأغفر له، حتى ينفجر الفجر

    Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ”[HR Al-Bukhari (1145), Muslim (758)]

    Bila dia khawatir tidak bisa bangun pada akhir malam, maka ia bisa beralih ke tingkatan yang ketiga.

  3. Tingkatan Ketiga: Melaksanakan shalat pada awal malam, atau pada bagian malam lainnya yang paling mudah baginya
    Dalilnya adalah hadits Jabir راضي الله عنه dia berkata “Rasulullah  شالله على محمد شالله عليه وسلم bersabda :

مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

“Barangsiapa yg khawatir tak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan witir di awal malam. Dan siapa yg berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) & hal itu adl lebih afdlal (utama)” [HR Muslim (755)

Hal ini juga berdasarkan wasiat Nabi  شالله على محمد شالله عليه وسلم kepada Abu Dzar, Abu Darda dan Abu Hurairah راضي الله عنه . Masing-masing mengatakan “Kekasihku saw telah mewasiatkan tiga perkara kepadaku” salah satunya adalah : “Supaya aku mengerjakan shalat witir sebelum tidur”

B. Di Sunahkan Melaksanakan shalat malam sebelas rakaat

Rakaat inilah yang paling sempurna, berdasarkan hadits Aisyah راضي آنه yang mengatakan “Rasulullah   شالله على محمد شالله عليه وسلم mengerjakan shalat malam baik ketika Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya tak lebih dari sebelas rakaat” [HR Al-Bukhari (1981), Muslim (721)

Diriwayatkan pula bahwa Nabi   شالله على محمد شالله عليه وسلم melaksanakan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat. Imam muslim meriwayatkan di dalam kitab Shaih-nya dari Aisyah راضي آنه , dia berkata “Rasulullah   شالله على محمد شالله عليه وسلم biasa melaksanakan shalat malam tiga belas rakaat dengan shalat witir lima rakat tanpa duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat akhir” [HR Al-Bukhari (1147), Muslim (738)]
Para ulama berbeda pendapat mengenai dua rakaat pada riwayat yang menyebutkan tiga belas rakaat karena Aisyah راضي آنه telah memberitahukan bahwasanya Rasulullah   شالله على محمد شالله عليه وسلم tidak pernah shalat melebihi lebih dari sebelas rakaat

  1. Ada yang mengatakan “Dua rakaat itu adalah shalat sunah (setelah) Isya”
  2. Ada yang mengatakan “maksud dari dua rakaat itu adalah shalat sunah fajar”

Ada juga yang mengatakan “Itu adalah dua rakaat ringan yang dengannya Rasulullah   شالله على محمد شالله عليه وسلم membuka shalat malam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits” Pendapat ini yang dirajihkan oleh Ibnu Hajar رحمة الله [Al-Fath (3/21)]

Ini merupakan keragaman rakaat shalat witir. Yang paling sering beliau lakukan adalah shalat witir sebanyak sebelas rakaat dan terkadang beliau melaksanakan shalat witir sebanyak tiga belas rakaat, Dengan demikian, kita bisa mengompromikan antara kedua hadits tersebut.

C.Disunahkan mengawali shalat malam dengan dua rakaat yang ringan

Hal ini berdasarkan hadits Aisyah راضي آنه dia berkata “Apabila Rasulullah   شالله على محمد شالله عليه وسلم bangun untuk menunaikan shalat malam, beliau mengawali dengan dua rakaat yang ringan” [HR Muslim (767)]

Sunah Berwudhu

Dalam persoalan wudhu, akan dijelaskan sunah-sunah secara ringkast dalam bentuk poin-poin tidak secara terperinci. Di sini hanya sebagai penyempurna sunah-sunah :

Di antara Sunah-sunah Wudhu adalah :

A.Siwak (menggosok gigi)

Bersiwak dilakukan sebelum memulai wudhu, atau sebelum berkumur-kumur. Orang yang hendak berwudhu disunahkan bersiwak. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a yang menyatakan bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali melakukan wudhu.” [HR Ahmad (9928)]
Juga berdasarkan hadits Aisyah r.a dia berkata “Kami biasa menyiapkan untuk beliau siwak dan alat bersucinya (air wudhu). Lalu Allah membangunkannya sesuai dengan kehendak-Nya pada malam hari. Beliau lalu bersiwak, berwudhu, dan shalat …” [HR Muslim (746)]

B. Membaca basmalah

Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah راضي الله عنه secara marfu’ :

لاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak sah wudhunya orang yang tidak menyebut nama Allah” [HR Ahmad (11371)]

Hadits ini dhaif. Dianggap dhaif oleh Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ibnu Al-Qaththan رحمة الله

r.a dam Imam Ahmad رحمة الله mengatakan “Hadits tentang masalah ini tidak ada yang sahih”

Hadits tersebut memiliki banyak riwayat penguat (syahid) dari sekelompok sahabat, namun seluruh syahid tersebut juga dhaif. Sementara itu, sekelompok ulama berpendapat bahwa hadits ini, dengan keseluruhan jalur periwayatannya bisa naik kepada derajat hasan. Jika hadits tersebut menunjukkan sunahnya (membaca basmalah dalam wudhu). Demikianlah pendapat jumhur ulama. Jadi, hadits Abu Hurairah راضي الله عنه dengan keseluruhan jalur periwayatannya dinilai hasan oleh banyak ulama. [Lihat :Talkhishul Habir, Ibnu Hajar (1/128). Lihat juga: Mahajjatul Qurbi, Ibnu Shalah (249). Lihat juga:As-Sailul Jirar, Asy-Syaukani (1/176). Dan selain mereka.

C. Mencuci kedua telapak tangan tiga kali

Hal ini berdasarkan hadits Utsman راضي الله عنه mengenai tata cara wudhu Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم dan dalam hadits tersebut disebutkan “Dia (Utsman) meminta air untuk berwudhu, kemudian dia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali …” Kemudian Utsman berkata “Aku pernah melihat Rasulullah شالله على محمد شالله عليه وسلم berwudhu seperti tata cara wudhuku ini” [HR Al-Bukhari (164), Muslim (226)]

Adapun dalil yang memalingkannya dari hukum wajib adalah firman Allah سبحانه تعالى :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu” [Al-Ma’idah:6]

Karena dalam ayat tersebut Allah  سبحانه تعالى tidak menyebutkan tentang mencuci kedua telapak tangan

D. Mendahulukan sebelah kanan ketika mencuci kedua tangan dan kedua kaki

Hal ini berdasarkan hadits Aisyah راضي آنه dia berkata “Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم suka mendahulukan sebelah kanan pada saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan seluruh perkara lainnya” [HR Al-Bukhari (168), Muslim(268)

E. Memulai dengan berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq)

Hal ini berdasarkan hadits Utsman راضي الله عنه mengenai tata cara wudhu Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم “…Lalu berkumur, istintsar, kemudian membasuh wajahnya sebanyak tiga kali…” [HR Al-Bukhari (199), Muslim (226)].

Jika kumur-kumur dan istinsyaq diakhirkan seteah mencuci wajah, maka hal itu diperbolehkan.

F. Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyaq bagi orang yang tidak sedang puasa

Hal ini berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah راضي الله عنه bahwasanya Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم pernah bersabda kepadanya : “Sempurrnakanlah wudhu, sela-selalah di antara jari-jemarimu dan bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali jika engkau sedang puasa” [HR Ahmad (17846), Abu Dawud (142)

Syekh Ibnu Utsaimin رحمة الله mengatakan “Bersungguh-sungguh dalam berkumr-kumur yakni menggerak-gerakkan air dengan kuat dan membuat air mengenai seluruh bagian mulut”. Sementara bersungguh-sungguh dalam istinsyaq yakni menghirupnya dengan nafas yang kuat. Namun, hukumnya makruh bagi yang sedang puasa, sebab terkadang hal tersebut bisa membuat air tertelan.

Maksud dari isbagh (penyempurnaan) adalah membuat air wudhu merata ke seluruh anggota wudhu sesuai haknya. Inilah penyempurnaan wudhu yang hukumnya wajib. Sementara itu, penyempurnaan yang hukumnya sunah adalah mengerjakan sunah-sunah yang wudhu tetap sempurna meski tanpa sunah-sunah tersebut.

G. Berkumur-kumur dan istinsyaq dengan satu cidukan telapak tangan

Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Zaidراضي الله عنه mengenai tata cara wudhu Nabi شالله على محمد شالله عليه وسلم dia berkata. “beliau memasukkan tanganya (ke dalam wadah untuk menciduk air) lalu berkumur-kumur serta ber-istinsyaq dengan air dari sau cidukan telapak tangan. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali … ” [HR Al-Bukhari (192), Muslim (235)]

H. Tata cara yang disunahkan dalam mengusap kepala

Yaitu, memulai mengusap kepala dengan meletakkan kedua tangan di bagian depan kepala, kemudian mengusapkan kedua tangan tersebut sampai  ke bagian belakang kepala. Kemudian mengembalikannya lagi ke tempat awal memulai mengusap. Wanita juga hendaknya melaksanakan sunah ini dengan cara yang sama, namun rambut yang melebihi leher seorang wanita tidak perlu diusap.

Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Zaid [HR Al-Bukhari(185), Muslim(235)

I. Membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali

Basuhan yang pertama adalah wajib,sedangkan yang kedua dan ketiga adalah sunah dan tidak boleh lebih dari tiga kali.

Dalilnya adalah riwayat yang disebutkan oleh Al-Bukhari رحمة الله dari hadits Ibnu Abbas : “Sesungguhnya Nabi  شالله على محمد شالله عليه berwudhu satu kali satu kali (untuk masing-masing anggota wudhu)” [HR Al-Bukhari(157)]

Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari رحمة الله dari hadits Abdullah bin Zaid راضي الله عنه “Sesungguhnya Nabi على محمد شالله عليه وسلم berwudhu dua kali dua kali” [HR Al Bukhari(158)]

Diriwayatkan pula di dalam kitab Shahihain dari hadits Utsman راضي الله عنه “Sesungguhnya Nabiشالله على محمد شالله عليه berwudhu tiga kali dua kali”

J. Membaca doa setelah berwudhu

Diriwayatkan dari Umar  راضي الله عنه dia berkata “Rasulullah شالله على محمد شالله عليه bersabda :

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُأَوْ فَيُسْبِغُالْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” [HR Muslim (234)]

Ketika hendak berwudhu, seorang muslim hendaknya menghadirkan hatinya bahwa dia sedang melaksanakan ibadah yang di dalamnya terdapat tiga keutamaan agung.

  1. Wudhu merupakan sebab datangnya kecintaan Allah سبحانه تعالى kepadanya
  2. Sebab diampuni dosa-dosanya
  3. Juga sebab dipakaikan kepadanya pakaian-pakaian (perhiasan) pada hari kiamat di bagian anggota wudhunya.

 

Sunnah Sebelum Fajar

Sunah pada awal bangun tidur. Banyak sekali nash yang menunjukkan pada beberapa amalan yang dilakukan oleh Nabi saw sebelum waktu fajar. Sunah pada waktu ini dibagi menjadi dua bagian

  1. Saat bangun tidur dan Amalann Nabi saw sesaat setelah bangun
  2. Bangun untuk shalat malam dan witir

Saat bangun tidur dan amalan-amalan Nabi saw sesaat setelah bangun

A. Membersihkan mulut dengan siwak, yaitu mengosoknya dengan siwak

Dari Hudzaifah r.a , ia berkata “Apabila Nabi saw bangun di malm hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” [HR Al-Bukhari (245), Muslim (255)]
Di dalam riwayat Muslim disebutkan: “Apablia Rasulullah saw bangun (malam) untuk bertahajjud, maka beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” [HR Muslim (255)]

B. Membaca zikir bangun tidur

Hal ini disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Hudzaifah r.a, dia berkata, “Apabila Nabi saw hendak tidur, beliau membaca

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

“Dengan nama-Mu, Ya Allah, aku mati dan hidup.”

Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan kepada-Nya lah tempat kembali.” [HR Al-Bukhari (6324), Muslim dari Hadits Al-Barra’ (2711)]

C. Mengusap bekas tidur dari wajahnya

D. Memandang ke langit

E. Membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali-Imran

Ketiga sunnah diatas terdapat di dalam hadits Ibnu Abbas r.a yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim (Muttafaq ‘Alaih), bahwasanya pada suatu malam dia (ibnu abbas) pernah bermalam di rumah Maimunah, Istri Nabi saw, yang merupakan bibinya dari pihak ibu. Maka dia berbaring pada sisi lebarnya bantal sementara Nabi saw dan istrinya berbaring pada sisi panjangnya. Rasulullah saw pun tidur. Hingga pada tengah malam atau kurang sedikit atau lewat sedikit, beliau bangun dan duduk sambil mengusap sisa-sisa kantuk yang ada di wajahnya dengan tangan. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali-Imran. Setelah itu, beliau berdiri menuju geriba (tempat air yang besar terbuat dari kulit) yang tergantung, beliau lalu berwudhu dengan memperbagus wudhunya. Kemudian beliau berdiri melaksanakan shalat. [HR Al-Bukhari (183), Muslim (763)]
Dalam riwayat Muslim disebutkan :”Maka Nabi saw bangun di akhir malam, kemudian beliau keluar, lalu melihat ke langit seraya membaca ayat berikut :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ


190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

DI dalam riwayat Muslim terdapat penjelasan tentang apa yang dibaca Rasulullah saw bagi orang yang ingin mengamalkan sunah ini, yaitu Rasulullah saw memulai bacaanya dari (Ali-imran:190) sampai ayat terakhir dari surat Ali-imran.
Bacaan Rasulullah saw terhadap ayat tersebut sebelum berwudhu, merupakan dalil atas dibolehkannya membaca Al-Qur’an dalam keadaan hadits kecil.

F. Mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali

Berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a bahwasanya Nabi saw bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana air hingga dia membasuhnya sebanyak tiga kali, karena dia tidak mengetahui di mana tangan itu menginap” [HR Al-Bukhari (162), Muslim (278)]

Ada dua pendapat mengenai hal tersebut :

       1. Mazhab Hanbali berpendapat bahwa itu hukumnya wajib.

Pendapat tersebut di-rajih-kan oleh Syekh Ibnu Baz di dalam syarh-nya atas kitab “Umdatul Ahkam”
Dalil yang digunakan adalah hadits Abu Hurairah yang ada diatas. Bahwa Nabi saw melarang mencelupkan kedua tangan sebelum mencucinya. Hukum asalnya, larangan menunjukkan pengharaman, selama tidak ada dalil lain yang memalingkan larangan dair pengharaman.

2. Pendapat yang dikemukakan oleh jumhur ulama, hukumnya mustahab (sunah).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu”

Dalil yang mereka gunakan adalah surah Al- Maidah:6. Allah memerintahkan berwudhu tanpa memerintahkan mencuci tangan dan ayat tersebut berlaku umum bagi orang yang baru bangun tidur dan yang lainnya.

G. Menghirup air ke hidung (istinsyaq) dan mengeluarkannya lagi (istintsar) sebanyak tiga kali

Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a bahwasanya Nabi saw bersabda :

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأْ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيْشُوْمِهِ

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah dia beristinstar tiga kali, karena setan bermalam pada batang hidungnya “[HR Al-Bukhari (3295), Muslim (238)]

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum istinstar sebanyak tiga kali setelah bangun dari tidur malam. Ada dua pendapat mengenai hal tersebut :

1. Pendapat pertama : Mereka berpendapat hukumnya mustahab (sunah), karena alasan (‘illat). Yang disebutkan dalam hadits diatas, yaitu :

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيْشُوْمِهِ

“karena setan bermalam pada batang hidungnya

Wajhud dalalah: Mereka berpendapat bahwa keberadaan setan di sini tidak menimbulkan najis hingga mengharuskan seseorang untuk menghilangkannya

2. Pendapat kedua : istintsar itu wajib, sebab asal dari perintah itu wajib, selama tidak ada dalil yang memalingkannya dari kewajiban. Apa yang disebutkan oleh pendapat pertama itu bukanlah dalil yang dapat memalingkan dan menjadi hujjah untuk memalingkan perintah itu dari hukum wajib, karena hikmah dari perintah ber-istintsar itu bisa jadi bersifat tersembunyi, bukan karena adanya najis

H. Berwudhu

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas ketika Nabi saw bermaksud melaksanakan shalat beliau pergi menuju geriba tempat air yang tergantung, lalu beliau berwudhu dengannya

Dalam persoalan wudhu terdapat lagi sunah-sunah dalam berwudhu secara ringkas dalam bentuk poin-poin pada postingan selanjutnya